Mataram (ANTARA) - Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah pusat mampu meningkatkan kelayakan usaha bidang pangan di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB).
"MBG harus dipandang sebagai mesin ekonomi. Jika dikelola dengan benar, program itu bisa menjadi penggerak ekonomi lokal yang melahirkan pengusaha-pengusaha baru dari daerah," ujar dia dalam pernyataan di Mataram, Senin.
Kamrussamad mengatakan selama ini banyak UMKM pangan menghadapi persoalan utama berupa ketidakpastian pasar. Program MBG mengubah kondisi tersebut karena menghadirkan permintaan yang stabil dalam jangka panjang.
Menurut dia, kepastian kontrak usaha memungkinkan pelaku UMKM melakukan ekspansi produksi dan meningkatkan kapasitas usaha sekaligus memperkuat akses terhadap kredit perbankan.
Setiap rupiah anggaran yang masuk ke NTB melalui program MBG harus mampu berputar di dalam daerah selama mungkin sebelum keluar. Pelaku usaha lokal perlu mengambil peran dominan dalam rantai pasok pangan, mulai dari produksi bahan baku, distribusi, hingga pengelolaan dapur terpusat.
"Jika rantai pasok dikuasai pelaku usaha NTB, maka uang tidak langsung keluar daerah. Efeknya bisa berputar tiga sampai empat kali dan menciptakan kekayaan baru bagi masyarakat," kata Kamrussamad.
Ketua Umum Badan Pengurus Wilayah Himpunan Pengusaha Korps Alumni (Hipka) Himpunan Mahasiswa Islam tersebut menyampaikan MBG adalah instrumen fiskal yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah apabila rantai pasoknya dikuasai pelaku usaha lokal.
Dana APBN yang mengalir melalui dapur penyedia makanan lantas diteruskan kepada petani sayuran, peternak sapi, produsen telur, pelaku logistik, hingga tenaga kerja di sektor pengolahan pangan.
Per 31 Mei 2026, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Provinsi NTB mencatat pemerintah pusat telah mengucurkan APBN untuk mendukung program prioritas nasional Makan Bergizi Gratis bagi 1,89 juta penerima manfaat dengan realisasi belanja mencapai Rp2,02 triliun.
Pelaku Usaha MBG Ahmad Tantawi mengingatkan perlunya kepastian regulasi agar dunia usaha semakin tertarik berinvestasi dalam ekosistem MBG.
"Baru kali ini ada program yang sat-set secara langsung ke bawah tanpa alur birokrasi yang jelimet. Uang diarahkan langsung ke bawah tanpa banyak birokrasi," ujar Ahmad.
Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.