Paris (ANTARA) - Tiga reaktor nuklir di Prancis telah dihentikan pengoperasiannya dan delapan reaktor lainnya beroperasi dengan daya yang dikurangi di tengah gelombang panas yang sedang berlangsung, demikian dilaporkan media setempat pada Minggu (12/7).
Kantor Berita Xinhua mewartakan, badan cuaca nasional Prancis pada Minggu (12/7) menetapkan 37 departemen dalam status peringatan gelombang panas tingkat tertinggi (merah) sejak pukul 12.00 waktu setempat (pukul 17.00 WIB), memperingatkan bahwa suhu di wilayah-wilayah yang terdampak dapat mencapai antara 37 derajat hingga 41 derajat Celsius.
Surat kabar harian Prancis, Le Parisien, mengutip pernyataan perusahaan utilitas listrik milik negara, EDF, yang menyebutkan bahwa reaktor-reaktor tersebut dimatikan "karena kondisi cuaca dan untuk mematuhi peraturan yang mengatur pembuangan panas sehingga dapat melindungi lingkungan."
Suhu sungai yang tinggi dapat membatasi kemampuan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) untuk menggunakan air sungai sebagai pendingin, sehingga operator terpaksa mengurangi output atau menghentikan sementara operasinya demi mematuhi peraturan lingkungan.
Dalam sebuah laporan yang dirilis pada Kamis (9/7), Meteo-France menyatakan bahwa menyusul gelombang panas luar biasa yang melanda Prancis pada akhir Juni, suhu yang sangat panas kembali menyebar ke sebagian besar wilayah negara tersebut.
Pada Minggu, badan cuaca nasional tersebut menetapkan 37 departemen dalam status peringatan gelombang panas tingkat tertinggi (merah) sejak pukul 12.00 waktu setempat (pukul 17.00 WIB), memperingatkan bahwa suhu di wilayah-wilayah yang terdampak dapat mencapai antara 37 derajat hingga 41 derajat Celsius.
Selain itu pada Minggu, Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan dalam sebuah wawancara dengan saluran televisi Prancis BFM TV bahwa sebanyak 139 orang telah tewas akibat tenggelam sejak 19 Juni, meningkat 18 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Penerjemah: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.