Jakarta (ANTARA) - Amartha Financial mengajak masyarakat untuk semakin bijak berinvestasi di tengah kondisi pasar yang dinamis dengan perencanaan keuangan sesuai dengan profil risiko yang terukur.
Certified Financial Planner Lolita Setyawati, dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin, mengatakan minat masyarakat terhadap investasi juga mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, yang mana semakin banyak yang mulai mempertimbangkan kesesuaian dengan profil risiko, tujuan keuangan, serta transparansi pengelolaan investasi.
Lolita mengatakan sebelum mulai berinvestasi, penting untuk memahami kondisi keuangan pribadi.
Menurutnya, investasi sebaiknya dilakukan ketika kebutuhan dasar sudah tertata, termasuk memiliki cash flow yang sehat, cicilan terkendali, serta memastikan tersedianya anggaran darurat.
"Anggaran darurat tetap perlu diprioritaskan. Idealnya anggaran tersebut mencapai enam kali pengeluaran bulanan. Namun, jika belum memungkinkan, setidaknya mulai dari dua hingga tiga kali pengeluaran bulanan," jelas Lolita.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menggunakan anggaran darurat atau anggaran pinjaman untuk berinvestasi. Investasi sebaiknya menggunakan "uang dingin", yaitu anggaran yang memang tidak digunakan untuk kebutuhan pokok dalam waktu dekat.
Selain itu, Lolita mengatakan pentingnya untuk investor memahami tujuan berinvestasi, risiko, serta cara kerja produk investasi sebelum mengambil keputusan.
Menurutnya, jangan berinvestasi hanya karena melihat orang lain mendapat imbal hasil atau takut tertinggal tren.
Ia juga mengatakan perlunya mengelola rasa kecewa jika hasil investasi tidak sesuai harapan, dan mengurangi risiko tersebut dengan memahami cara kerja produk investasi, risiko, serta potensi imbal hasilnya.
Di tengah semakin banyaknya pilihan produk investasi, masyarakat juga perlu lebih cermat dalam memilih instrumen yang sesuai dengan kebutuhan dan profil risikonya.
Lolita menekankan pentingnya memperhatikan legalitas produk, mekanisme pengelolaan investasi, potensi imbal hasil, serta kesesuaian dengan tujuan dan kondisi keuangan masing-masing.
"Prinsipnya sederhana, yaitu legal dan logis. Legal berarti produk tersebut memiliki izin dan berada di bawah pengawasan otoritas terkait. Sementara, logis maksudnya kita memahami bagaimana pos keuangan dikelola, ke mana dana disalurkan, serta dari mana potensi imbal hasilnya berasal. Karena itu, ketika memilih investasi, sebaiknya tidak hanya melihat angka return, tetapi juga mempertimbangkan tujuan dan rencana keuangan masing-masing investor," jelas Lolita.
Lolita juga menyampaikan investasi bisa dilakukan dari nominal kecil dan memulai sedini mungkin serta konsisten sesuai kemampuan finansial.
Dengan kemudahan akses semakin cepat seseorang bisa berinvestasi meski dengan modal kecil agar bisa mencapai imbal hasil yang berkembang dalam jangka panjang.
Salah satunya dengan berinvestasi yang memberikan manfaat tidak hanya imbal hasil tapi juga memahami apakah investasi yang dikelola terhubung dengan sektor riil, termasuk pembiayaan produktif UMKM yang berperan penting dalam menggerakkan ekonomi masyarakat.
Menjawab kebutuhan tersebut, lanjutnya, pihaknya menghadirkan Amartha Prosper, salah satunya melalui Grassroots Growth Series (GGS), sebagai pilihan alternatif investasi yang memungkinkan masyarakat berinvestasi sekaligus terhubung dengan pembiayaan produktif bagi UMKM perempuan.
"Melalui Amartha Prosper, masyarakat dapat berinvestasi sekaligus mendukung pembiayaan sektor riil, khususnya pembiayaan produktif UMKM perempuan di perdesaan. Investor bukan hanya memperoleh potensi imbal hasil, melainkan juga investasi yang disalurkan dapat memberi dampak ekonomi yang lebih luas dan inklusif," kata Chief Funding Officer Amartha Julie Fauzie.
Selama lebih dari 16 tahun, Amartha telah menyalurkan modal usaha kepada lebih dari 4 juta UMKM perempuan di perdesaan dengan total permodalan yang disalurkan mencapai lebih dari Rp47 triliun.
Nilai ganda tersebut mendapat sambutan positif dari investor ritel, tercermin dari tingginya minat terhadap Amartha Prosper sejak diluncurkan pada Januari 2026.
Selain menawarkan potensi pertumbuhan yang menarik, Amartha Prosper juga menjadi alternatif investasi di luar aset konvensional sehingga dapat membantu investor mendiversifikasi portofolio, sembari juga menciptakan dampak positif yang berkelanjutan.
Baca juga: Amartha gandeng ibu-ibu tingkatkan ketahanan pangan nasional
Baca juga: Amartha catat 60 persen portofolio perusahaan berasal dari luar Jawa
Baca juga: Amartha Financial resmi memperoleh izin uang elektronik dari BI
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.