Jakarta (ANTARA) - Ekonom dari Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto mengingatkan keberhasilan agenda perampingan (streamlining) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sangat bergantung pada kemampuan menciptakan nilai tambah (value creation), baik bagi perusahaan itu sendiri maupun bagi negara.
Oleh sebab itu, menurutnya, keberhasilan konsolidasi tidak dapat diukur hanya dari efisiensi jangka pendek. Menurutnya, aspek paling krusial adalah memastikan proses penggabungan perusahaan-perusahaan sejenis mampu menciptakan nilai tambah.
Toto, sebagaimana dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin, mencontohkan sejumlah kasus konsolidasi pada masa lalu justru yang menghasilkan penurunan nilai perusahaan atau value destroying karena proses integrasi pasca-merger tidak berjalan optimal.
Untuk itu, menurut Toto, tahapan persiapan seperti due diligence, pembentukan project management office (PMO), hingga pelaksanaan post-merger integration harus dilakukan secara komprehensif.
Secara umum, Toto menilai rencana dari Danantara Indonesia untuk melakukan perampingan jumlah BUMN dan entitas turunannya dari sekitar 1.077 menjadi sekitar 300 perusahaan sebagai langkah strategis untuk memperkuat daya saing korporasi negara.
Ia meyakini, agenda streamlining BUMN ini merupakan upaya yang tepat untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing perusahaan negara.
“Kalau sekarang Presiden menyampaikan dari sekitar seribuan akan dibuat menjadi hanya sekitar 300, tentu konteksnya adalah dalam upaya bagaimana supaya daya saing dari BUMN itu bisa diperkuat,” kata Toto.
Ia juga memandang, penggabungan perusahaan-perusahaan sejenis memungkinkan penurunan struktur biaya melalui integrasi pengadaan barang dan jasa, pemanfaatan fasilitas pendukung secara bersama, hingga optimalisasi sumber daya perusahaan.
"Dengan cost structure yang lebih ringan, maka tentu otomatis bottom line atau angka profitnya juga bisa meningkat," kata Toto.
Diberitakan sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria menyampaikan bahwa pihaknya saat ini sedang melakukan streamlining atau perampingan jumlah entitas BUMN dari 1.077 perusahaan menjadi sekitar 200-300 perusahaan yang ditargetkan rampung pada 2026.
Menurut Dony, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar transformasi BUMN tidak merugikan para pekerja.
Ia menjelaskan perampingan dilakukan untuk mengatasi tingginya jumlah perusahaan yang tidak efisien dan mengalami kerugian. Dari total 1.077 perusahaan yang ada saat ini, sekitar 52 persen tercatat merugi dengan akumulasi kerugian mencapai Rp20 triliun.
Meski demikian, Danantara memilih mempertahankan seluruh tenaga kerja setelah melakukan perhitungan terhadap dampak finansial dari proses konsolidasi tersebut.
Menurut Dony, nilai penghematan yang dihasilkan dari proses konsolidasi jauh lebih besar dibandingkan biaya yang diperlukan untuk mempertahankan seluruh karyawan.
Selain memastikan tidak ada PHK, Dony mengungkapkan program perampingan BUMN berpotensi menghasilkan penghematan langsung hingga Rp50 triliun per tahun.
Menurutnya, selama ini terdapat praktik transaksi berlapis antara perusahaan induk, anak usaha, hingga perusahaan di bawahnya yang menimbulkan inefisiensi signifikan.
Baca juga: Prabowo telah tutup 240 BUMN, targetkan 800 perusahaan di akhir tahun
Baca juga: Danantara gabung empat asset management BUMN ke Mandiri MI
Baca juga: COO Danantara: Kinerja BUMN fondasi untuk perkuat ekonomi nasional
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.