Jakarta (ANTARA) - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan industri otomotif nasional telah siap mengimplementasikan penggunaan bahan bakar campuran biodiesel B50.
“Industri otomotif sudah siap mengimplementasikan B50, dan road test untuk B50 berjalan lancar dan baik,” ujar Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika dihubungi di Jakarta, Senin.
Menurut dia, kesiapan industri otomotif juga didukung oleh performa sektor tersebut yang terus berkembang dengan ekosistem manufaktur yang semakin kuat.
Putu Juli menyampaikan, kendaraan produksi Indonesia telah diekspor secara global, yang menunjukkan daya saing industri otomotif nasional semakin meningkat di pasar global.
Lebih lanjut menurut dia, dalam memperluas peluang pasar, industri otomotif nasional menunjukkan daya saingnya di pameran industri terbesar kawasan Eurasia yakni INNOPROM 2026, di Ekaterinburg, Rusia, 6-9 Juli.
Menurutnya, melalui ajang tersebut, Indonesia membuka peluang kerja sama dengan negara-negara Eurasia, termasuk dalam penyediaan komponen otomotif.
“Ekosistem industri otomotif sudah berjalan bagus. Kita juga menawarkan kalau dibutuhkan komponen-komponen karena kita banyak ekspor komponen. Sehingga itu akan sangat bagus untuk mendukung industri otomotif maupun purna jual yang ada di negara-negara Eurasia,” katanya.
Ia menambahkan, perbedaan spesifikasi kendaraan seperti posisi kemudi tidak menjadi kendala bagi industri otomotif Indonesia dalam memperluas pasar ekspor.
Industri nasional dinilainya telah memiliki pengalaman melakukan penyesuaian sesuai kebutuhan negara tujuan.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita meyakini Indonesia memiliki potensi kuat untuk menjadi pemain utama dalam pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit melalui inovasi, hilirisasi, dan kerja sama internasional dengan Rusia serta negara-negara di kawasan Eurasia.
“Melalui inovasi, hilirisasi, dan kerja sama internasional, kami ingin menjadikan industri sawit tidak hanya sebagai penggerak ekonomi nasional, tetapi juga sebagai bagian dari solusi menuju ketahanan energi dan pembangunan industri yang berkelanjutan," ujar Menperin dalam pernyataannya yang dikonfirmasi dari Jakarta, Sabtu (11/7).
Adapun pada 7 Juli, Indonesia berpartisipasi dalam forum bertema Palm Oil and the Future of Sustainable Energy di perhelatan INNOPROM 2026, Ekaterinburg, Rusia.
Sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia memanfaatkan forum tersebut untuk memperlihatkan kesiapan industrinya dalam mendukung transisi energi global.
Salah satu program strategis yang diperkenalkan adalah penerapan mandatori biodiesel B50 yang mulai berlaku pada Juli 2026.
Selain itu, Indonesia juga memperkenalkan berbagai kebijakan pendukung keberlanjutan industri sawit, mulai dari program peremajaan kebun rakyat, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga pengembangan teknologi industri biodiesel.
Baca juga: Gaikindo yakin hasil uji coba B50 positif jadi "trademark" RI
Baca juga: Kementerian ESDM umumkan uji jalan B50 untuk otomotif selesai Mei 2026
Baca juga: Pengamat: Pemerintah perlu antisipasi ketersediaan rantai pasok B50
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.