Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Kementerian Ekonomi Kreatif (Sesmen Ekraf) Dessy Ruhati mengatakan implementasi pembiayaan dan permodalan di ekosistem ekonomi kreatif dapat didorong dengan skema yang dapat mengembangkan ekosistem ekraf yang berkelanjutan dan sesuai dengan kematangan usaha.

Dessy mengatakan instrumen yang didorong kementerian adalah melalui kredit usaha rakyat (KUR) yang telah menjangkau puluhan ribu pelaku usaha dengan nilai pembiayaan yang terus meningkat.

"Hal tersebut menunjukkan bahwa KUR tetap menjadi instrumen utama bagi pengembangan UMKM ekonomi kreatif. Namun, bagi kami keberhasilan KUR tidak hanya diukur dari besarnya kredit yang disalurkan," kata Dessy dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI bertema "Akses Pembiayaan dan Permodalan", yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin.

Dessy mengatakan hingga semester I 2026, KUR ekraf telah menjangkau 93.182 pelaku usaha dengan nilai pembiayaan hingga Rp5 triliun.

Namun, dari KUR yang telah disalurkan, keberhasilan sesungguhnya dapat terlihat jika pembiayaan tersebut mampu meningkatkan kapasitas usaha, memperluas pasar, serta mendorong pelaku usaha naik kelas.

Dessy mengatakan selain KUR, alternatif pendanaan yang juga sedang didorong untuk meningkatkan ekosistem ekonomi kreatif adalah skema security crowdfunding.

Skema ini telah mengumpulkan total pendanaan sebesar Rp36 miliar dengan total 19 pelaku usaha ekraf yang dinilai memberikan kesempatan bagi pelaku usaha kreatif yang memiliki prospek baik untuk memperoleh pendanaan langsung dari masyarakat melalui platform yang telah diatur oleh OJK.

"Perkembangan pembiayaan melalui skema ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai memiliki kepercayaan yang semakin besar terhadap usaha-usaha kreatif Indonesia. Ke depan, skema seperti ini akan terus kami dorong sebagai alternatif pembiayaan dan permodalan yang melengkapi sistem," ungkap Dessy.

Sementara, bagi pelaku usaha yang telah berkembang lebih besar, Dessy menilai pasar modal menjadi akses pembiayaan yang sesuai dengan tingkat kematangan usaha yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Ia mengatakan masuknya pelaku ekonomi kreatif ke pasar modal merupakan indikator bahwa usaha kreatif Indonesia memiliki daya saing yang semakin baik.

Hal ini membuktikan bahwa terdapat jalur pembiayaan dan permodalan yang memungkinkan pelaku usaha berkembang mulai dari usaha rintisan, memperoleh KUR, berkembang melalui investasi, hingga mampu menghimpun modal dari publik.

"Dengan demikian, keberhasilan pembiayaan tidak berhenti pada saat kredit dicairkan, tetapi diukur dari kemampuan usaha untuk tumbuh secara berkelanjutan," katanya.

Ia juga mengatakan penerapan prinsip "Right Financing for the Right Business Stage" dapat menjadi tolok ukur pelaku usaha memperoleh jenis pembiayaan yang sesuai dengan tingkat kematangan usahanya.

Lebih jauh, Dessy mengatakan ke depannya pengembangan ekosistem ekonomi kreatif bukan lagi semata-mata ketersediaan sumber dana melainkan membangun keterhubungan antarberbagai skema tersebut agar pelaku usaha dapat menemukan jalur pembiayaan yang paling sesuai dengan kebutuhannya.

Baca juga: Kemenekraf: Perlindungan JKN jaga produktivitas 27,4 juta pelaku ekraf

Baca juga: Menekraf: Seni pertunjukan Batak berpeluang dorong pertumbuhan ekonomi

Baca juga: Kemenekraf inisiasi IN-APPS 2026 perkuat ekosistem aplikasi nasional

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.