...BNPB mengimbau masyarakat di sekitar wilayah Kawasan Rawan Bencana untuk mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh otoritas terkait
Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat dan wisatawan untuk mematuhi rekomendasi otoritas terkait dengan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya menyusul terjadinya erupsi Gunung Karangetang di Pulau Siau, Sulawesi Utara.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa wilayah steril yang harus dihindari meliputi radius 1,5 kilometer dari puncak Kawah Dua pada bagian utara dan Kawah Utama pada bagian selatan puncak erupsi, serta perluasan sektoral ke arah selatan-barat daya sejauh 2,5 kilometer.
"Atas kejadian erupsi Gunung Karangetang, BNPB mengimbau masyarakat di sekitar wilayah Kawasan Rawan Bencana untuk mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh otoritas terkait," kata dia menegaskan.
Abdul menjelaskan bahwa gunung api setinggi 1.784 meter di atas permukaan laut tersebut dilaporkan mengalami erupsi dari kawah utara pada Minggu (12/7) malam pukul 19.14 WITA, yang diawali dengan erupsi bertipe strombolian atau eksplosif lemah setinggi 100 meter.
Baca juga: Pos PGA: Letusan Gunung Karangetang lontarkan meterial pijar
Erupsi itu kemudian memicu aliran lava sejauh 1.000 meter ke arah utara dan selatan dari kawah utara, serta sejauh 400 meter ke arah barat-barat daya, disertai suara dentuman dan lontaran material pijar di sekitar kawah.
Lontaran material panas dari letusan tersebut sempat membakar vegetasi alang-alang di sekitar puncak gunung, namun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sitaro mengonfirmasi kebakaran tersebut sudah padam dan terkendali pada Senin pagi tadi.
Abdul menambahkan bahwa selain itu, warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai yang berhulu dari puncak gunung diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang berpotensi mengalir hingga ke area pantai.
BNPB, pun telah mengingatkan adanya potensi bahaya lanjutan berupa erupsi magmatik serta guguran awan panas yang dapat meluncur sewaktu-waktu ke arah lembah akibat penumpukan material lava sebelumnya yang belum stabil dan mudah runtuh.
Baca juga: ESDM: Suara gemuruh masih terdengar dari kawah Gunung Karangetang
Hal tersebut penting mengingat berdasarkan catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas kegempaan Gunung Karangetang sedang menunjukkan tren peningkatan sejak awal Juli 2026.
Pada periode 1-11 Juli 2026 kegempaan terekam 12 kali gempa guguran, 83 kali gempa hembusan, 7 kali tremor harmonik, 32 kali tremor non-harmonik, 10 kali gempa hybrid/fase banyak, 41 kali Gempa vulkanik dangkal, 21 kali gempa vulkanik dalam, 3 kali gempa tektonik lokal, 4 kali gempa terasa pada skala I – III MMI, dan 127 kali gempa tektonik jauh.
"Meski demikian, status aktivitas gunung api paling aktif di Sulawesi ini masih dipertahankan pada Level II Waspada sejak awal tahun lalu, dan aktivitas harian masyarakat setempat dilaporkan tetap berjalan dengan normal," kata dia.
Baca juga: Pos PGA: Gunung Karangetang semburkan lava pijar
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.