Jakarta (ANTARA) - Gejala gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD) pada ibu setelah melahirkan dapat memengaruhi aktivitas otak yang berperan dalam mengenali dan merespons kebutuhan bayi, menurut hasil penelitian terbaru dari tim peneliti Emory University, Amerika Serikat.

Dikutip dari Psychology Today pada Kamis (9/7), penelitian tersebut menyoroti bahwa masa nifas bukan hanya periode pemulihan fisik dan penyesuaian menjadi orang tua, tetapi juga masa yang rentan terhadap berbagai gangguan kesehatan mental, termasuk PTSD.

Selama ini perhatian terhadap kesehatan mental ibu setelah melahirkan lebih banyak difokuskan pada depresi dan kecemasan. Padahal, sebagian ibu juga mengalami gejala trauma, seperti ingatan yang terus muncul terhadap peristiwa traumatis, kewaspadaan berlebihan, menghindari situasi tertentu, hingga mati rasa secara emosional.

Baca juga: Trauma melahirkan dapat pengaruhi kondisi mental ibu pascapersalinan

Dalam penelitian yang dipimpin Rebecca Lipschutz, para peneliti mengamati interaksi antara ibu dan bayinya yang berusia enam hingga 12 minggu untuk menilai sensitivitas ibu dalam mengenali serta merespons kebutuhan bayi.

Sekitar satu hingga dua minggu kemudian, para ibu menjalani pemeriksaan functional magnetic resonance imaging (fMRI) sambil mendengarkan rekaman tangisan bayi mereka sendiri. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk melihat bagian otak yang aktif ketika ibu merespons tangisan bayinya.

Hasil penelitian menunjukkan ibu yang lebih peka terhadap kebutuhan bayinya memiliki aktivitas lebih tinggi pada insula, yaitu bagian otak yang berperan mengenali sinyal emosional dan sensasi tubuh.

Baca juga: Daftar makanan yang perlu dihindari ibu setelah melahirkan

Sebaliknya, ibu dengan gejala PTSD yang lebih tinggi menunjukkan aktivitas yang lebih rendah pada insula, amigdala, dan ventromedial prefrontal cortex. Ketiga wilayah otak tersebut berperan dalam mengenali sinyal emosional, mendeteksi ancaman, serta mengatur respons emosi.

Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa temuan tersebut bukan berarti ibu dengan PTSD tidak dapat menjadi orang tua yang hangat dan responsif terhadap anaknya.

Menurut peneliti, gejala trauma hanya dapat membuat proses pengasuhan menjadi lebih menantang, terutama karena masa setelah melahirkan juga diwarnai kurang tidur, perubahan hormon, kelelahan fisik, serta proses pemulihan tubuh.

Baca juga: WHO-UNICEF sarankan cuti melahirkan dengan upah dukung ibu menyusui

Temuan ini juga menunjukkan bahwa masa setelah melahirkan merupakan periode penting untuk memberikan dukungan kesehatan mental kepada ibu.

Peneliti menilai skrining PTSD dan gejala trauma selama masa kehamilan maupun setelah persalinan perlu dilakukan secara rutin, sebagaimana skrining depresi pascamelahirkan.

Dengan demikian, ibu yang membutuhkan bantuan dapat memperoleh penanganan lebih dini melalui terapi berbasis bukti, termasuk terapi perilaku kognitif berfokus trauma, pelatihan regulasi emosi, maupun pendekatan mindfulness.

Peneliti menilai dukungan terhadap kesehatan mental ibu pada masa awal setelah persalinan penting untuk membantu proses pengasuhan, mendukung perkembangan anak, serta memperkuat hubungan antara ibu dan bayi.

Baca juga: Psikolog ungkapkan pentingnya peran keluarga bagi ibu usai melahirkan

Baca juga: Lima kebiasaan rawat diri agar kesehatan ibu baru terjaga

Penerjemah: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.