Jakarta (ANTARA) - Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Cabang Jakarta menyebut fase pre-myopia merupakan waktu terbaik untuk melakukan intervensi.
Ketua Perdami Jakarta dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin mengatakan bahwa sebelum menjadi miopia, anak dapat memasuki fase pre-miopia yaitu kondisi ketika ukuran refraksi mata mulai mendekati miopia dan berisiko berkembang menjadi rabun jauh.
Dalam Meet The Expert 2026 di Jakarta, Minggu (12/7), Julie menyampaikan pada masa kini kasus miopia banyak ditemukan pada anak usia di bawah tujuh tahun. Semakin dini miopia muncul, semakin cepat pula progresivitasnya.
Baca juga: Ortho-K solusi non-bedah cegah mata anak miopia sejak dini
"Kalau progresivitas ini tidak kita tahan, maka risiko terjadinya komplikasi penglihatan di masa depan akan semakin besar," kata Julie.
Menurut Julie, tanpa intervensi yang tepat, miopia dapat berkembang menjadi high myopia hingga pathologic myopia, yang berisiko menyebabkan komplikasi seperti stafiloma posterior, miopic maculopathy, foveoschisis, hingga gangguan saraf optik yang dapat menurunkan kualitas penglihatan secara permanen.
Ia menambahkan etnis Asia, memiliki aktivitas luar ruangan yang minim, serta terlalu banyak melakukan aktivitas jarak dekat atau screen time perlu mendapatkan perhatian lebih dini.
Baca juga: Cegah miopia anak, China umumkan kebijakan baru waktu tidur 10 jam
Selain faktor genetik, perubahan pola hidup juga berkontribusi terhadap meningkatnya kasus miopia pada anak. Beban belajar yang semakin tinggi membuat waktu bermain di luar rumah berkurang, sementara penggunaan gawai semakin meningkat. Kemudian ia menekankan bahwa dokter kini semakin sering menemukan kasus miopia pada anak.
Presiden Direktur EssilorLuxottica Indonesia, Dailami Aziz menyatakan akan bekerja sama dengan Perdami untuk meningkatkan edukasi mengenai pentingnya deteksi dini dan manajemen miopia pada anak.
Baca juga: Cegah miopia, sekolah di China perlu pastikan siswa beraktivitas fisik
Dia berharap kerja sama itu akan semakin banyak tenaga kesehatan mata yang menerapkan pendekatan berbasis bukti ilmiah dalam menangani miopia pada anak, sehingga risiko komplikasi penglihatan di masa depan dapat ditekan sekaligus meningkatkan kualitas penglihatan generasi muda Indonesia.
Ia melanjutkan, peningkatan penggunaan perangkat digital, aktivitas jarak dekat yang semakin intensif, serta berkurangnya waktu anak bermain di luar ruangan menjadi faktor yang mendorong percepatan perkembangan miopia.
Pihaknya sendiri telah mengembangkan teknologi Highly Aspherical Lenslet Target (H.A.L.T.) yang diterapkan pada lensa Essilor® Stellest® untuk membantu mengoreksi penglihatan anak yang mengalami rabun jauh, tetapi juga dirancang untuk memperlambat pemanjangan sumbu bola mata (axial length).
Baca juga: Waktu tepat periksa mata pada ahlinya
Baca juga: China upayakan perlindungan siswa dari miopia, obesitas, dan skoliosis
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.