Chengdu, China (ANTARA) - Pada Konferensi Energi Cerdas China 2026 yang baru saja digelar di Chengdu, Provinsi Sichuan, China, para pejabat dan pengusaha asal negara-negara ASEAN dan China membahas kerja sama mengenai solusi energi cerdas yang dapat diterapkan di Asia Tenggara.

Konferensi itu bertujuan memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan kemampuan pemanfaatan energi baru serta pembangunan jaringan listrik regional.

Salah satu perwakilan yang hadir adalah Kiwi Aliwarga, pengusaha Indonesia dari perusahaan teknologi, IdeaLLab.

Menurut Kiwi, Indonesia menghadapi sejumlah kendala alami dalam membangun jaringan pasokan energi dan listrik terpadu yang harus mencakup begitu banyak pulau, sehingga digitalisasi energi menjadi perhatian kalangan industri terkait di Indonesia.

"Seiring tren pembangunan teknologi digital berkembang pesat di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi kebutuhan yang besar akan pasokan energi yang bersih dan stabil. Kami merasa teknologi dan solusi yang dipamerkan oleh perusahaan China menawarkan ide baru untuk kalangan industri Indonesia," ujar Kiwi.

Kiwi berdiskusi dengan mitra-mitra potensial di berbagai stan di venue pameran, mengenai platform energi cerdas, sistem penyimpanan energi, dan perangkat lunak manajemen energi yang canggih serta kemungkinan penerapannya di Indonesia. Dia juga berharap perusahaannya dapat menjalin kerja sama dengan mitra-mitra di China.

Sejumlah pakar industri yang berpartisipasi mengatakan bahwa hubungan sistem energi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sudah bergeser dari model "AI memberdayakan energi" menjadi "keduanya yang saling memberdayakan".

Hal itu mengingat sejumlah solusi energi cerdas asal China sudah berubah dari inovasi tunggal dan menjadi rantai keseluruhan yang mencakup produksi, transmisi, penyaluran, dan pemanfaatan listrik, yang berpotensi menurunkan biaya kelistrikan dan menaikkan tingkat kecerdasan dan digitalisasi serta efisiensi energi.

Senada dengan Kiwi, Brian James Lu dari Association for Philippines-China Understanding (APCU) menyoroti potensi pemanfaatan teknologi energi cerdas di masa depan.

"Biaya energi di Filipina terbilang tinggi di kawasan ASEAN, dan banyak perusahaan sedang gencar menjajaki solusi yang lebih cerdas dan berkelanjutan. Hal ini dapat membantu menurunkan biaya listrik dan dengan demikian meningkatkan daya saing perusahaan," kata Lu.

Pewarta: Xinhua
Editor: Imam Budilaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.