Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika anak-anak itu mampu membuktikan bahwa kemiskinan bukanlah warisan yang harus diteruskan kepada generasi berikutnya.

Banyumas (ANTARA) - Saat dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Banyumas pada tahun ajaran 2025/2026, Siti Isbandiyah mengaku menangis pada pekan pertama mendampingi anak-anak dari keluarga miskin karena terenyuh melihat langsung keterbatasan hidup yang mereka alami.

Pengalaman emosional itu menjadi titik awal perjalanan Isbandiyah memimpin SRMP 13 Banyumas yang untuk sementara menempati salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Sosial, yakni Sentra Satria Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Sebagai pendidik yang bertahun-tahun mengajar di berbagai sekolah menengah atas (SMA), mulai dari sekolah biasa hingga sekolah favorit, Isbandiyah mengaku pengalaman di Sekolah Rakyat mengubah cara pandangnya tentang makna pendidikan.

Sebelum menerima amanah sebagai Kepala SRMP 13 Banyumas, dia baru beberapa pekan menjabat Kepala SMA Negeri 2 Purwokerto setelah sebelumnya memimpin SMA Negeri 1 Purwokerto. Kedua sekolah tersebut dikenal masyarakat sebagai sekolah favorit di Kabupaten Banyumas.

"Di Sekolah Rakyat ini harus memiliki jiwa yang tulus, sabar, dan ikhlas. Yang kami hadapi bukan hanya pembelajaran, tetapi bagaimana menyiapkan mereka berani memutus mata rantai kemiskinan," katanya.

Pada hari-hari pertama, dia menyaksikan anak-anak datang dengan kondisi fisik yang memprihatinkan. Ada yang bertubuh kecil karena diduga mengalami kekurangan gizi, ada yang yatim atau piatu, bahkan ada yang diasuh kerabat setelah kehilangan orang tua.

Menurut dia, bertahan hidup dalam kondisi seperti itu saja sudah merupakan perjuangan besar. Namun, setahun kemudian, pemandangan tersebut berubah drastis.

Anak-anak yang semula datang dengan rasa minder kini tampil lebih bersih, sehat, dan percaya diri. Mereka bangun pagi, beribadah, mengikuti kegiatan di asrama, belajar dengan disiplin, hingga aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan diri.

"Kalau sekarang melihat mereka, orang tidak akan mengira mereka berasal dari keluarga desil 1 atau desil 2. Penampilannya sudah berubah, perilakunya juga jauh lebih berkarakter," ujarnya.

Perubahan tersebut, menurut Isbandiyah, lahir dari pendampingan yang dilakukan secara menyeluruh. Selain pembelajaran dan pengasuhan di sekolah, siswa memperoleh layanan kesehatan dari puskesmas, pendampingan Sentra Satria, serta dukungan kepada keluarga sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup mereka.

Namun, perubahan terbesar justru terlihat pada cara anak-anak memandang masa depan.

Di sekolah reguler, Isbandiyah terbiasa mendengar siswa bercita-cita menjadi dokter, anggota TNI, polisi, guru, atau insinyur. Sebaliknya, di Sekolah Rakyat, pertanyaan sederhana tentang cita-cita sering kali dijawab dengan keraguan.

Suatu hari seorang siswa mengatakan ingin menjadi pedagang cilok keliling.

Isbandiyah mengaku terkejut, bukan karena profesi tersebut, melainkan karena sejauh itulah jangkauan mimpi anak itu. Dia tidak mematahkan keinginannya. Sebaliknya, dia mengajak sang siswa membayangkan kemungkinan yang lebih besar, yakni memiliki restoran cilok yang terkenal hingga mancanegara.

Baca juga: Sekolah Rakyat Banyumas matangkan persiapan MPLS bagi siswa baru

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.