jika adopsinya berhasil, AI bisa meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing, yang pada akhirnya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Jakarta (ANTARA) - Analis Senior dari Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita mengatakan perluasan literasi digital kepada pelaku usaha usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi salah satu pendorong transformasi ekonomi digital UMKM di tengah era pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

“Dalam lima tahun ke depan, AI berpotensi menjadi game changer bagi transformasi UMKM Indonesia, tetapi dengan catatan besar. Jika adopsinya berhasil, AI bisa meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing, yang pada akhirnya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Ronny kepada ANTARA, di Jakarta, Selasa.

Ia menilai AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas UMKM. Teknologi ini dapat membantu pelaku usaha melakukan otomatisasi pencatatan keuangan, mengelola persediaan barang, hingga memprediksi permintaan pasar secara lebih akurat.

Di sisi pemasaran, AI mampu menganalisis perilaku konsumen, sehingga promosi menjadi lebih tepat sasaran. Sementara dalam layanan pelanggan, chatbot berbasis AI dapat meningkatkan kecepatan respons tanpa harus menambah biaya tenaga kerja.

Namun, rendahnya literasi digital pelaku usaha dinilai masih menjadi tantangan utama yang menghambat adopsi teknologi tersebut.

Ia mengatakan sebagian besar UMKM di Indonesia masih berada pada tahap digitalisasi dasar, seperti menggunakan media sosial dan marketplace untuk pemasaran, sehingga implementasi AI masih dianggap terlalu kompleks dan jauh dari kebutuhan sehari-hari.

Ronny juga menyoroti pelaku UMKM yang juga menghadapi kendala berupa minimnya sumber daya manusia (SDM), keterbatasan akses teknologi, biaya implementasi, serta rendahnya pemahaman mengenai nilai bisnis yang dapat dihasilkan AI.

Dia juga mengatakan baru beberapa sektor yang siap memanfaatkan AI yang umumnya sudah terkoneksi ekosistem digital, sebaliknya sektor seperti pertanian tradisional, manufaktur kecil, atau usaha berbasis offline masih membutuhkan pendampingan intensif karena belum sepenuhnya terdigitalisasi.

“Literasi digital yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan teknis menggunakan aplikasi, tetapi lebih dalam yaitu literasi berbasis bisnis (business-driven digital literacy). UMKM perlu memahami bagaimana AI bisa meningkatkan efisiensi, menekan biaya, atau meningkatkan penjualan,” ujarnya pula.

Ronny mengatakan diperlukan kolaborasi dari pemerintah yang berperan menyediakan regulasi, insentif, dan infrastruktur pendukung untuk mempercepat transformasi tersebut. Di sisi lain, platform digital diharapkan menghadirkan layanan AI yang lebih mudah digunakan dan terjangkau bagi UMKM, sementara sektor swasta dapat berkontribusi melalui pelatihan, inkubasi, hingga akses pembiayaan.

Tanpa peningkatan literasi digital dan pemerataan akses teknologi, pemanfaatan AI justru berpotensi memperlebar kesenjangan antara UMKM yang telah siap bertransformasi dengan pelaku usaha yang masih tertinggal dalam proses digitalisasi.

Baca juga: Kearney: Literasi AI dan energi bersih kunci daya saing RI

Baca juga: Menkomdigi: Transformasi digital harus dukung peningkatan kebudayaan

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.