Palembang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menargetkan produksi padi di wilayah itu mencapai 4 juta ton gabah kering giling (GKG) pada 2026 atau meningkat dibanding realisasi tahun sebelumnya sebesar 3,69 juta ton.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Sumsel Bambang Pramono di Palembang, Rabu, mengatakan hingga pertengahan 2026 produksi padi di Sumsel telah mencapai 2,46 juta ton GKG.
"Target tahun 2026 harus lebih tinggi dari capaian tahun 2025 sebesar 3,69 juta ton. Artinya minimal kita harus mencapai 4 juta ton GKG atau membutuhkan tambahan sekitar 300 ribu ton GKG," katanya.
Ia mengatakan luas lahan baku sawah di Sumsel saat ini mencapai 519.482 hektare. Sekitar 73 persen di antaranya merupakan lahan rawa, baik rawa lebak maupun pasang surut, yang dinilai masih memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi padi.
Pada musim kemarau muka air di kawasan rawa lebak akan menurun sehingga lahan yang sebelumnya tergenang hingga sembilan bulan dalam setahun dapat dimanfaatkan untuk kegiatan tanam.
Untuk mendukung pencapaian target produksi tersebut, Pemprov Sumsel telah mengusulkan rehabilitasi saluran irigasi primer dan sekunder di kawasan pasang surut kepada Kementerian Pertanian, Kementerian PPN/Bappenas, dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sejak April 2026.
Baca juga: Kementan optimalkan lahan rawa di Sumsel tingkatkan produksi padi
Baca juga: BPS prakirakan luas panen padi Sumsel capai 502,16 ribu hektare
Ia menjelaskan, saluran irigasi primer dan sekunder yang menjadi kewenangan Kementerian PUPR telah belasan hingga puluhan tahun belum direhabilitasi. Sementara melalui program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI) pada 2019 hingga program optimalisasi lahan (Oplah) pada 2025, rehabilitasi yang dilakukan baru mencakup saluran tersier.
Kondisi tersebut memang telah meningkatkan produktivitas lahan pasang surut dari sekitar 5 ton per hektare menjadi 5,6 hingga 6,5 ton per hektare. Namun, peningkatan itu belum diikuti kenaikan indeks pertanaman karena sedimentasi dan pendangkalan pada saluran primer dan sekunder masih membatasi frekuensi tanam.
Selain mendorong rehabilitasi jaringan irigasi, Bambang mengatakan, pihaknya juga meluncurkan program Gerakan Tanam Menyongsong El Nino untuk memanfaatkan musim kemarau sesuai prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sehingga lahan rawa lebak yang biasanya tergenang dapat dimanfaatkan untuk budidaya padi.
"Kami optimistis target produksi 4 juta ton GKG pada 2026 dapat tercapai melalui dukungan berbagai program Kementerian Pertanian, seperti cetak sawa bantuan alat dan mesin pertanian, brigade pangan, serta penyaluran pupuk bersubsidi yang kini dinilai semakin mudah diakses petani," kata Bambang.
Baca juga: BPS proyeksikan produksi beras RI 25,28 juta ton hingga Agustus 2026
Baca juga: Produksi padi naik 100 persen, Prabowo targetkan Indonesia lumbung pangan
Pewarta: Ahmad Rafli Baiduri
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.