Banjarbaru (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel) dan Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Kalimantan Selatan menyepakati percepatan pertanian modern untuk peningkatan produksi padi.

"Keberhasilan program Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) membutuhkan kolaborasi, integritas, serta mitigasi risiko yang baik," kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel Syamsir Rahman saat sosialisasi perluasan tanam PM-AAS di Banjarbaru, Rabu.

Dia mengatakan dengan target perluasan tanam seluas 16.040 hektare sebagai bagian dari program nasional perluasan tanam satu juta hektare Kementan, maka Kalsel berupaya keras mewujudkannya.

Adapun langkah-langkah percepatan pelaksanaan PM-AAS yang disepakati, mulai dari penetapan hamparan potensial, kesiapan benih dan irigasi, hingga pengembangan lokasi percontohan yang mengadopsi praktik baik dari Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Tabalong.

Langkah tersebut menjadi modal penting bagi Kalimantan Selatan untuk merealisasikan target perluasan tanam sekaligus meningkatkan produksi padi, memperkuat ketahanan pangan, dan mendukung swasembada pangan nasional.

Baca juga: BRMP Kalsel tanam perdana PM-AAS percepat modernisasi pertanian

Baca juga: Ditjenpas Kalsel cetak sawah rakyat wujudkan pembinaan pertanian

Syamsir mengungkapkan pula produksi padi Kalimantan Selatan mencapai 1,2 juta ton lebih pada tahun 2025 dengan luas panen sebesar 290.332 hektare.

Untuk tahun 2026, produksi didorong naik melalui program cetak sawah baru seluas 30.000 hektare termasuk 16.040 hektare lewat program PM-AAS.

Plt Kepala BRMP Kalimantan Selatan Wahida Annisa Yusuf menjelaskan PM-AAS menerapkan metode tanam benih langsung menggunakan drum seeder yang didukung bantuan benih unggul, alat dan mesin pertanian (Alsintan), serta prasarana dari Kementerian Pertanian untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Dia menekankan pentingnya kesiapan petani, pendampingan penyuluh, pengelolaan tata air, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman sebagai kunci keberhasilan program.

Sementara Kepala BPSB-TPH Provinsi Kalimantan Selatan Zainul Arifin menyatakan kesiapan menyediakan benih bermutu sesuai kebutuhan petani.

Baca juga: Kementan targetkan cetak sawah rakyat 30 ribu hektare di Kalsel

Baca juga: Membidik dua miliar rupiah di lahan sawah berteknologi

Pewarta: Firman
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.