Kalau dibandingkan trase sebelumnya, risiko di jalur ini relatif lebih rendah. Dulu ada sekitar 80 rumah, masjid serta bangunan lain dan lahan yang terdampak. Sekarang kita mencoba mencari alternatif yang dampaknya lebih kecil
Agam, Sumbar (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat, bersama perwakilan PT Hutama Karya (Persero) melanjutkan perencanaan pembangunan Jalan Tol Padang-Pekanbaru ruas Sicincin-Bukittinggi, termasuk jalur baru pada ruas tersebut.
Rapat khusus diselenggarakan bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Kejaksaan Negeri Agam, para wali nagari se-Kecamatan Sungai Pua, serta sejumlah unsur terkait di Kantor Camat Sungai Pua pada Rabu.
Bupati Agam Benni Warlis mengatakan rapat khusus diadakan juga sebagai tindak lanjut hasil pembahasan sebelumnya di Kantor Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat mengenai alternatif trase atau jalur baru jalan tol itu.
Dia menjelaskan pemerintah mengusulkan jalur baru yang membentang dari Pasar Amor menuju Simpang Taluak hingga terhubung ke Jalan Bypass Bukittinggi dengan panjang sekitar enam kilometer.
"Ini merupakan tindak lanjut rapat di Kejati Sumbar. Kami menyampaikan rencana pemindahan trase yang lebih pendek, dari Pasar Amor ke Simpang Taluak menuju Bypass. Panjangnya sekitar enam kilometer," ujarnya.
Menurut dia, rapat bersama camat dan para wali nagari digelar untuk menyamakan persepsi sebelum rencana tersebut disampaikan kepada ninik mamak dan masyarakat melalui tahapan sosialisasi.
Ia menegaskan alternatif trase baru dipilih karena dinilai memiliki dampak sosial yang lebih kecil dibandingkan rencana sebelumnya.
Selain tetap memenuhi konsep ruas Tol Sicincin-Bukittinggi yang masuk ke wilayah Kota Bukittinggi, jalur tersebut juga memanfaatkan koridor Jalan Bypass yang telah direncanakan sebelumnya.
Baca juga: Hutama Karya mulai siapkan amdal Tol Sicincin-Bukittinggi
"Kalau dibandingkan trase sebelumnya, risiko di jalur ini relatif lebih rendah. Dulu ada sekitar 80 rumah, masjid serta bangunan lain dan lahan yang terdampak. Sekarang kita mencoba mencari alternatif yang dampaknya lebih kecil, meski tetap ada lahan yang terdampak," katanya.
Dia menyebutkan proses pembangunan saat ini masih berada pada tahap persiapan penyusunan dokumen perencanaan.
Tahapan berikutnya adalah sosialisasi dan konsultasi publik yang akan menjadi dasar diterima atau tidaknya usulan trase oleh masyarakat.
"Kalau dalam konsultasi publik masyarakat menolak, tentu akan kembali dibahas lagi. Karena itu sekarang kita libatkan pemerintah provinsi sejak awal agar proses persiapan berjalan lebih efektif," jelasnya.
Dia berharap dukungan seluruh pemangku kepentingan dapat memperlancar tahapan persiapan hingga penetapan lokasi dapat segera dilakukan.
"Harapan kita, dengan sosialisasi yang dilakukan sejak sekarang kepada wali nagari, ninik mamak dan masyarakat, seluruh proses bisa berjalan lebih cepat sehingga pembangunan tol yang akan membuka akses dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dapat segera terealisasi," katanya.
Plt Vice Presiden Enginering PT Hutama Karya Halim Wiranata mengatakan proses perencanaan teknis sedang berjalan secara umum mulai dari trase Sicincin hingga Bukittinggi.
"Kemudian karena memang saat ini dinamika di lapangan sehingga kami bersama dengan Kementerian PU tetap berusaha untuk memastikan perencanaannya itu nanti pada rencana yang bisa untuk dibangun konstruksi. Sehingga memang dari awal itu sudah harus melibatkan, menyertakan dari masyarakat," katanya.
Menurut dia, proses perencanaan teknis dan penyusunan dokumen perencanaan pengadaan tanah dilakukan, ia juga menanggapi perubahan rencana awal yang melewati Trase Kubang Putiah.
"Kami melihat dinamika di lapangan itu kami sangat wajar, itu sangat mungkin terjadi. Kami berusaha untuk memastikan jika memang terdapat potensi-potensi nanti adanya jalan tol ini belum bisa terbangun, maka kami meminta dukungan," kata Halim.
Baca juga: Menteri PU targetkan pembangunan Tol Sicincin-Bukittinggi Oktober 2026
Baca juga: Kementerian PU bagi dua segmen pembangunan Tol Sicincin-Bukittinggi
Pewarta: Altas Maulana
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.