Banda Aceh (ANTARA) - Seorang petani durian di Kabupaten Aceh Besar menjadikan kebunnya di kawasan pegunungan Lamteh, Desa Lamseunia, Kecamatan Leupung, sebagai objek agrowisata durian.
Agrowisata durian milik Suhaimi (42) itu berjarak sekitar enam kilometer dari jalan nasional lintas barat selatan Aceh atau sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh.
Perjalanan menuju lokasi agrowisata itu memakan waktu sekitar satu jam menggunakan sepeda motor atau kendaraan roda empat dengan gardan ganda.
Akses menuju wisata durian Leupung hanya dapat dilalui menggunakan sepeda motor atau mobil gardan ganda dan sejenisnya, karena harus melewati jalan menanjak dan berbatu.
Usaha agrowisata durian musiman milik Suhaimi itu sudah dibuka sejak empat tahun terakhir. Dia mempromosikannya melalui media sosial Instagram dan tiktok.
"Sudah kita buka sejak empat tahun lalu setiap musim durian, dan Alhamdulillah cukup diminati masyarakat," kata Suhaimi.

Sepuasnya
Untuk berkunjung ke sana, wisatawan cukup membayar Rp100 ribu untuk menikmati durian sepuasnya. Tetapi, jika wisatawan ingin sekalian makan siang dan menikmati kopi, harganya Rp120 ribu per orang. Duriannya tidak boleh dibawa pulang, cukup makan di lokasi sampai puas.
Tak hanya durian, pengunjung juga bisa menikmati hasil kebun lainnya secara gratis, misalnya manggis dan langsat jika memang ada buah lain yang dipanen berbarengan.
Di agrowisata itu ada sebanyak 110 batang pohon durian pada lahan seluas tujuh hektare. Seluruh durian di sana jenisnya masih durian kampung warisan orang tua. Suhaimi belum menanam varietas lain.
Tetapi, musim kali ini buah di kebun itu tidak terlalu banyak, sehingga sang pemilik membatasi pengunjung per harinya sekitar 15 orang saja. Padahal, pendaftar mencapai bisa mencapai 50 orang per hari.
"Kita membatasi karena durian tahun ini kurang banyak. Tidak bisa kita terima semua dalam sehari, karena judul kita makan durian sepuasnya. Kalau terlalu ramai, nanti takutnya ada yang tidak puas makan duriannya," ujarnya.
Suhaimi menjelaskan, konsep agrowisata durian ini berawal dari keterbatasan orang yang bekerja di kebun dan tidak sanggup menjaga selama 24 jam selama musim durian. Saat panen, kebun durian tidak bisa ditinggal tanpa penjaga.
Jika kebun ditinggal selagi panen, buahnya bisa hilang diambil orang atau dimakan hewan-hewan liar. Monyet sangat suka durian. Kalau sudah seperti itu, usaha menjaga kebun selama ini sia-sia. Durian yang seharusnya dapat dijual untuk membantu ekonomi keluarga, lenyap begitu saja.
Karena kondisi itu, akhirnya Suhaimi berinisiatif menawarkan agrowisata. Menawarkan kepada umum untuk menikmati durian secara langsung di kebunnya.
Dengan membuka agrowisata, Suhaimi mendapatkan nilai ekonomi lebih banyak dari hasil panen durian. Selain mendapat keuntungan dari agrowisata, dia juga menjual durian dengan membuka lapak di lintasan jalan nasional.
Tidak sedikit agen yang datang ke kebun untuk membeli langsung durian setiap harinya. Sehingga, pendapatannya bisa bertambah.
Langkah ini diambil juga karena banyak orang dari Banda Aceh maupun Aceh Besar tidak memiliki kebun, dan mereka ingin menikmati sensasi makan durian langsung dari pohonnya.
Dengan membuka agrowisata, Suhaimi tidak hanya membantu ekonomi keluarganya, melainkan juga ada rezeki yang mengalir untuk orang lain yang ikut mengurus serta menjaga kebun selama musim panen.
Lebih puas
Seorang wisatawan asal Aceh Selatan, Khairina, mengaku sangat senang bisa menikmati durian langsung di agrowisata tersebut. Apalagi dia bisa menikmati buah kesukaannya itu tanpa tidak dibatasi. Dia bisa makan durian sampai puas.
"Alhamdulillah, ini perdana kita ke sini. Di sini kita bebas dan tidak dibatasi, bisa makan sepuasnya. Dan bisa ambil durian jatuh sendiri. Senanglah pokoknya," kata Khairani.
Meski jalan menuju lokasi sedikit menantang, ia merasa puas setelah tiba di perkebunan tersebut.
"Kami tahu wisata ini dari TikTok, makanya kita datang ke sini. Dan saya puas karena bisa makan macam-macam rasa durian. Rasanya beda sekali makan durian langsung di kebun dengan yang di pasar," ujar Khairina.

Hal senada juga diutarakan Dedi Saputra. Wisatawan asal Aceh Utara ini mengaku sudah dua kali mengunjungi agrowisata durian Leupung Aceh Besar tersebut, tetapi dengan rombongan berbeda.
Ia mengaku pertama datang ke agrowisata itu pada musim durian 2024, dan kembali lagi karena memang kangen suasana di sana. Apalagi, rasa durian di kebun berbeda dengan yang dibeli di pasar.
"Terakhir saya ke sini waktu musim durian tahun 2024. Kemarin pas tahu agrowisata ini dibuka lagi, dan juga diajak kawan, saya langsung ikut. Karena enak makan di kebun, masih baru duriannya," kata Dedi.
Dedi juga mengaku sudah tahu medan yang harus dilalui, sehingga telah mempersiapkan kendaraannya sebelum berangkat, termasuk bekal seperti nasi dan lainnya.
Di sisi lain, dirinya berharap kepada pemerintah di Aceh terutama Pemkab Aceh Besar dapat membantu mengembangkan agrowisata durian musiman ini. Selain untuk membantu perekonomian petani, juga dapat mengenalkan durian Aceh Besar ke pasar yang lebih luas.
"Ini perlu didukung pemerintah, terutama akses jalan ke semua tempat agrowisata durian di Aceh Besar. Sehingga, dengan semakin banyak wisatawan ke sini, maka durian Aceh Besar bisa lebih dikenal pasar, dan memberikan manfaat ekonomi untuk petani," kata Dedi Saputra.
Dukungan
Menurut data Dinas Pertanian Aceh, kabupaten ini merupakan salah satu daerah penghasil durian terbesar ketiga di provinsi itu.
Analis Ketahanan Pangan Distan Aceh Besar, Muhni, mengatakan, perkebunan durian di sana tidak tersebar luas ke rata-rata wilayah. Dari 23 kecamatan, penghasil durian paling banyak di Aceh Besar berada di Kecamatan Lhoong dan Leupung.
Meskipun demikian ada kecamatan lain yang memiliki kebun durian seperti Lembah seulawah, Jantho, Seulimum, Kuta Cot Glie, Suka Makmur, Darul Kamal dan Lhoknga.
Dari sekian kecamatan yang memiliki kebun durian itu, hanya tiga kawasan yang berinisiatif mengundang pecinta durian lewat konsep agrowisata, yaitu petani durian di Desa Lamseunia Kecamatan Leupung, petani di Desa Teungoh Geunteut dan Lamsujen di Kecamatan Lhoong.

Muhni menambahkan, dalam rangka mendukung pengembangan kebun durian masyarakat, pemerintah selama ini membantu dengan pemberian bibit tanam durian unggul dan pupuk melalui kelompok tani.
Adapun bibit yang diberikan selama ini seperti durian varietas montong, bentana, MK, hortimart serta berbagai varietas lainnya. Termasuk pengembangan tanaman durian varietas lokal.
Selain itu, pihaknya juga membina petani calon batang induk untuk sertifikasi durian Mieh yang sudah berlangsung lebih kurang tiga tahun.
Durian Mieh, yang dikenal dengan sebutan si kucing tidur, merupakan varietas durian purba legendaris asal Aceh Besar dengan daging buah berwarna oranye atau kuning cerah.
"Kita bekerja sama dengan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) terus memberikan dukungan dan melakukan pembinaan untuk menghasilkan sertifikasi bibit varietas lokal," tegas Muhni.
Bagi Suhaimi dan petani lainnya, setiap durian jatuh bukan sekedar buah lezat, melainkan jembatan yang menghubungkan mereka dengan penikmatnya, hingga mengisi pundi-pundi ekonomi keluarga.
Di tengah hiruk-pikuk kota, kebun durian Lamteh menawarkan keasrian alam, ketenangan, kejujuran rasa, serta kepuasan yang tak terhingga.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.