Bandarlampung (ANTARA) - Dirjen Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Catur Endah Prasetiani P mengatakan adanya program sekolah lapang agroforestri terpadu menjadi langkah meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan hutan secara berkelanjutan.

"Dalam pelaksanaan program perhutanan sosial saat ini, selalu diminta untuk membuat role model perhutanan sosial yang bagus. Dan role model itu kita namakan sekolah lapang agroforestri," ujar Dirjen Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Catur Endah Prasetiani P di Bandarlampung, Rabu.

Ia menjelaskan bahwa pada hari ini kegiatan sekolah lapang tersebut tengah diselenggarakan di Kabupaten Lampung Timur.

"Tadi disebutkan kalau di Lampung Timur dengan Gunung Balak terdapat alpukat Siger yang terkenal, sekarang kita akan coba dengan kopi dan cokelatnya. Kami juga sudah berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian dan beberapa pihak untuk mengembangkan ini dan sudah ada komunitasnya juga," katanya.

Ia mengatakan, pelaksanaan sekolah lapang agroforestri terpadu dapat mengembangkan berbagai jenis sekolah lapang dan dapat berfungsi juga sebagai tempat pengajaran kelompok lain ke lokasi tersebut.

Dia menjelaskan sekolah lapang agroforestri terpadu akan menjadi pusat pembelajaran dan inovasi agroforestri, dengan pelaksanaan kelas lapang, pelaksanaan multistrata agroforestri yakni integrasi pohon dan tanaman kayu, buah, rempah, kopi, atau kakao.

Kemudian pengembangan silvopastura yakni integrasi pohon dengan pakan dan ternak, pelaksanaan budidaya lebah madu, hilirisasi dan inkubasi bisnis, pengembangan perikanan terpadu seperti mina agroforestri, penerapan energi mandiri, dan menjadi pusat informasi pasar, kemitraan, dan investasi bagi produk agroforestri.

"Tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan hutan berkelanjutan, mengembangkan usaha berbasis agroforestri dan jasa lingkungan, mendorong inovasi, hilirisasi dan kemitraan usaha, serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat serta kelestarian hutan," tambahnya.

Pewarta: Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.