Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong pembangunan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana dengan edukasi mitigasi menyeluruh.

Lestari menyampaikan hal itu dalam sambutannya pada diskusi daring Peningkatan Aktivitas Seismik di Pasifik Implikasi dan Langkah Antisipatif Bagi Indonesia pada Rabu.

“Langkah antisipatif terhadap ancaman bencana di tanah air harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari penguatan infrastruktur, optimalisasi teknologi, hingga kesiapsiagaan masyarakat,” ucap dia, sebagaimana keterangan tertulis diterima di Jakarta.

Dia mengatakan memasuki pertengahan 2026, aktivitas kegempaan di sepanjang cincin api Pasifik menunjukkan dinamika tinggi, ditandai dengan rentetan gempa bermagnitudo besar yang melanda berbagai wilayah dan mengancam masyarakat.

Oleh sebab itu, langkah antisipatif harus dilakukan pemerintah dengan mempersiapkan infrastruktur dan meningkatkan pemahaman masyarakat terkait upaya menghadapi dampak bencana melalui berbagai upaya.

Di sisi lain, ia mendorong agar kolaborasi lintas sektor juga diperkuat untuk membangun kesiapsiagaan masyarakat.

Aktivitas seismik yang terus terjadi, ucapnya, perlu diantisipasi dengan mekanisme ketahanan adaptif masyarakat.

Hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wijayanto; Peneliti Senior Bidang Tsunami, Badan Riset dan Inovasi Nasional Widjo Kongko; serta analis kebencanaan ahli madya Badan Nasional Penanggulangan Bencana Maryanto.

Wijayanto menjelaskan sumber gempa di tanah air bersumber pada dua peristiwa, yaitu subduksi lempeng (megatrust) dan sesar atau patahan lempeng aktif. Gempa tidak dapat diprediksi sehingga diperlukan kesiapsiagaan masyarakat.

Ia menyebut langkah antisipasi harus konsisten dilakukan dengan memanfaatkan peta rawan bencana, memperkuat sistem informasi bencana, dan membangun mitigasi bencana yang mudah dipahami masyarakat.

Sementara itu, Widjo Kongko mengatakan 60 persen tsunami terjadi karena dipicu gempa tektonik dan 22 persen disebabkan gempa vulkanik.

Menurut dia, tantangan yang dihadapi Indonesia ialah 60 persen kota di Indonesia berada di pesisir pantai yang rawan tsunami. Selain itu, wilayah penting seperti kawasan industri dan pariwisata juga berada di pesisir.

Maka dari itu, ia menyebut pemahaman masyarakat akan bahaya dan risiko serta sistem peringatan dini yang tangguh harus menjadi perhatian serius semua pihak sebagai bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana.

Adapun Maryanto menjelaskan bencana yang terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2026 didominasi oleh bencana hidrometeorologi. Meskipun demikian, bencana geologis seperti gempa berdampak lebih besar.

Menurut dia, logistik merupakan elemen penting dalam upaya penanggulangan bencana, terlebih dampak gempa sering kali merusak infrastruktur. Karenanya, koordinasi yang baik di lapangan penting dalam penanganan dampak bencana.

Baca juga: MPR: Dibutuhkan kolaborasi atasi darurat kesehatan mental anak

Baca juga: Wakil Ketua MPR dukung langkah wujudkan lingkungan pendidikan nyaman

Pewarta: Fath Putra Mulya
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.