Jakarta (ANTARA) - Inspektorat DKI Jakarta meminta agar RT, RW, anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Dharma Wanita, serta Karang Taruna menjadi agen terdepan dalam pencegahan judi online.
"Langkah selanjutnya adalah mengajak seluruh stakeholders (pemangku kepentingan), bukan hanya ASN (Aparatur Sipil Negara), tetapi juga ada RT, RW, PKK, Karang Taruna dan Dharma Wanita untuk sama-sama kita melakukan upaya intervensi," kata Kepala Inspektorat DKI Jakarta Dhanny Sukma di Jakarta Barat, Rabu.
Menurut dia, badan-badan tersebut berada paling dekat dengan kelompok terkecil dalam masyarakat.
"Seperti RT, RW, kelompok sasarannya adalah warga di lingkungan. PKK, kelompok sasarannya adalah keluarga. Dharma Wanita adalah lebih banyak kepada istri-istri ASN yang juga memiliki peran penting untuk melakukan upaya pencegahan," ujar Dhanny.
Dia mengatakan upaya intervensi dapat dimulai dari interaksi dengan para pemain atau orang-orang yang diduga bermain judi online.
"Mengajak warga masyarakatnya, tidak membiarkan mereka melakukan aktivitas individual di dalam rumah, tetapi melakukan aktivitas sosial untuk sama-sama berinteraksi. Nah, kalau sudah interaksi, sudah saling mengenal, kalau sudah saling mengenal, nanti harapannya ada trust (rasa percaya)," tutur Dhanny.
Baca juga: Polda Metro Jaya tangkap empat tersangka sindikat judi daring internasional
Dengan adanya kepercayaan, sambung dia, maka kebiasaan para pemain judi online dapat diintervensi dan diselesaikan secara bersama-sama.
"Ketika ada trust, akan muncul kesadaran tinggi bahwa ini adalah persoalan kita bersama, khususnya terkait dengan pinjaman online, karena dampaknya judi online akan semakin meluas," ungkap Dhanny.
Lebih lanjut, dia menyebutkan kasus judi online di Jakarta terus meningkat setiap tahun.
"Trennya itu selalu meningkat dari tahun ke tahun, seperti tahun 2023, kita dapatkan data dari PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan), sebanyak 80 ribu (pemain). Di tahun berikutnya, dua kali lipat, sampai di angka mencapai 150-an. Begitu pula dengan tahun berikutnya," papar Dhanny.
Oleh karena itu, menurut Dhanny, diperlukan kesadaran kolektif yang mendalam bahwa judi online sangat berbahaya bagi kelangsungan ekonomi keluarga.
"Termasuk juga berdampak ke konflik keluarga, konflik ekonomi di keluarga, juga maupun secara lebih luas lagi," pungkas Dhanny.
Baca juga: Polda Metro Jaya ungkap praktik judi bermodus permainan ketangkasan
Baca juga: Polisi ungkap judi dan pornografi via aplikasi, tetapkan sembilan tersangka
Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.