...Kalau kita tidak ingin menjadi dinosaurus maka jadilah seorang pembelajar karena setiap perubahan memerlukan kita untuk terus beradaptasi
Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria meminta kepada para ilmuwan di Indonesia untuk memiliki kebijaksanaan dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Dalam Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Profesor Riset di Jakarta, Kamis, Arif menggarisbawahi bahwa seorang ilmuwan harus memiliki kebijaksanaan dalam menyampaikan sebuah ilmu.
"Kalau kita melihat pasangan kita, masak tidak enak misalnya. Itu sebuah kebenaran, benar enggak datanya? Benar. Bisa disampaikan dengan baik? Bisa. Tapi perlu enggak disampaikan dalam forum ini? Jadi perlu kadang-kadang orang bisa mengatakan sesuatu yang benar, iya. Tapi kadang-kadang itu tidak perlu disampaikan, karena perlu itu terkait dengan dimensi ruang dan waktu," katanya.
Kepala BRIN menekankan kemampuan memahami konteks ruang dan waktu dalam menyampaikan suatu ilmu merupakan hal yang hanya dimiliki oleh ilmuwan.
Ia menilai hal inilah yang membedakan antara ilmuwan dan kecerdasan buatan (AI) dalam menyampaikan ilmu, sehingga peran ilmuwan tidak dapat digantikan oleh AI.
Baca juga: Kepala BRIN: Profesor riset "role model" untuk respons perubahan
"Bukan saja bicara benar, bukan saja bicara tentang sesuatu yang secara baik, tapi memahami mana yang perlu dan mana yang tidak perlu. Karena banyak profesor, mohon maaf, sering kali jarang (memperhatikan poin ini). Yang penting ada data, keluarkan, tapi tidak memahami konteks. Konteks kepentingan institusi, konteks kepentingan negara, bahkan banyak negara lain itu ancamannya ketika membocorkan sebuah rahasia teknologi tertentu, itu ancamannya adalah pembunuhan, itu fakta," ujar Arif menegaskan.
Oleh karena itu, Eks-Rektor IPB University itu menegaskan kepada para ilmuwan untuk memperkuat kemampuan dalam menyampaikan kebenaran dengan baik, dan menyampaikannya sesuai dengan kebutuhan.
Ia meminta kepada seluruh ilmuwan untuk senantiasa belajar dan tidak berhenti berinovasi.
Mengutip pernyataan ilmuwan terkemuka Albert Einstein, Arif menyebutkan once you stop learning, you start dying (Sekali kamu berhenti belajar, artinya kamu sudah memulai kematian).
"Kalau Charles Darwin mengatakan bahwa yang survive bukanlah yang terkuat, bukanlah yang terpintar, tapi yang responsif terhadap perubahan. Maka memahami perubahan, dan mempersiapkan diri untuk beradaptasi terhadap perubahan, atau bahkan menjadi pemimpin perubahan, itu memerlukan kemampuan kita sebagai seorang pembelajar sejati yang baik. Kalau kita tidak ingin menjadi dinosaurus, maka jadilah seorang pembelajar karena setiap perubahan memerlukan kita untuk terus beradaptasi," tutur Arif Satria.
Baca juga: BRIN reaktivasi Reaktor Nuklir TRIGA 2000 guna perkuat riset Indonesia
Baca juga: BRIN dorong implementasi GIS untuk perkuat kebijakan berbasis bukti
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.