masa depan sepak bola Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa cepat kita menemukan "Messi Indonesia". Masa depan akan ditentukan oleh kemampuan kita membangun sistem yang memungkinkan ribuan anak Indonesia berkembang sesuai dengan potensinya.
Surabaya (ANTARA) - Final Piala Dunia selalu menghadirkan cerita yang melampaui 90 menit pertandingan. Publik memang akan mengingat gol, penyelamatan gemilang, atau keputusan taktis seorang pelatih. Namun, di balik semua itu terdapat proses panjang yang jarang terlihat.
Satu tim nasional tidak dibentuk dalam hitungan bulan. Ia merupakan hasil dari pembinaan usia dini, kualitas kompetisi, keberanian klub memberi ruang kepada pemain muda, serta kemampuan organisasi dalam menjaga budaya selama puluhan tahun.
Karena itu, ketika Argentina dan Spanyol bertemu di final Piala Dunia 2026, perhatian saya tidak hanya tertuju pada perebutan trofi. Saya melihat pertemuan dua tradisi pembinaan yang telah bekerja sejak jauh sebelum para pemain memasuki stadion.
Semifinal Argentina melawan Inggris menjadi contoh yang menarik. Inggris sempat memimpin sebelum memilih bertahan lebih dalam pada 20 menit terakhir. Keputusan tersebut memang memperkuat pertahanan, tetapi juga memberikan Argentina ruang untuk menguasai bola dan mengendalikan ritme permainan.
Lionel Messi mulai turun mengatur serangan, memaksa pertahanan Inggris terus bergeser, hingga akhirnya Enzo Fernandez menyamakan kedudukan, sebelum Lautaro Martinez memastikan kemenangan melalui sundulan pada masa tambahan waktu.
Dalam perspektif manajemen, pertandingan itu menunjukkan bahwa tekanan yang terakumulasi secara perlahan hampir selalu menemukan celah ketika sebuah sistem kehilangan kemampuannya mengendalikan keadaan.
Final kemudian menghadirkan narasi yang menarik: Lionel Messi berhadapan dengan Lamine Yamal. Sosok yang satu berada di pengujung karier yang luar biasa, sementara yang lain baru memulai perjalanan menuju puncak. Keduanya berasal dari generasi yang berbeda, membela negara yang berbeda, dan memiliki karakter bermain yang berbeda. Namun, keduanya pernah dibentuk oleh filosofi yang sama.
Baca juga: Lionel Messi sebut Argentina bisa ke final berkat kerja keras
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.