Jakarta (ANTARA) - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan komoditas strategis bauksit untuk pertama kalinya menggeser nikel dari posisi teratas untuk sasaran investasi para investor dalam negeri dan luar negeri untuk proyek-proyek hilirisasi di Indonesia sepanjang Kuartal II/2026.
Dari tahun ke tahun, Rosan menjelaskan posisi itu biasanya ditempati oleh nikel mengingat cakupan hilirisasi nikel di Indonesia telah menyasar hampir pada keseluruhan ekosistem pengolahannya.
"Bauksit ini nomor 1, biasanya kita tahu selalu nikel. Ini ada shifting bauksit, karena memang ada beberapa pembangunan (pabrik pengolahan, red.) bauksit, baik yang dilakukan oleh (investor, red.) dalam negeri maupun luar negeri sehingga bauksit ini untuk pertama kali juga mengambil tempat nomor 1 sesudah nikel," kata Rosan Perkasa Roeslani di Kantor Presiden, Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis.
Di Istana hari ini, Rosan melaporkan capaian dan realisasi investasi sepanjang periode Semester I/2026, termasuk periode Kuartal II/2026 kepada Presiden Prabowo Subianto.
Sepanjang Kuartal II/2026, realisasi investasi yang masuk mencapai Rp511,8 triliun atau meningkat 7,1 persen dibandingkan periode sebelumnya. Khusus untuk capaian di bidang hilirisasi, sepanjang Kuartal II/2026, realisasinya mencapai Rp152,7 triliun atau naik 5,7 persen.
"Total realisasi investasinya ini hampir mencapai 30 persen atau 29,8 persen dari total realisasi Triwulan II di tahun 2026," ujar Rosan.
Oleh karena itu, ke depan, Rosan menyampaikan pemerintah akan terus mendorong hilirisasi komoditas-komoditas strategis lainnya, salah satunya misalnya kelapa sawit.
"Hilirisasi yang kita lakukan ini lebih banyak, mungkin hilirisasi -- kalau kita bilang -- baru step pertama atau step kedua, tetapi kalau nikel memang sudah hampir the whole ecosystem, tentunya yang berhubungan dengan EV battery sampai dengan nickel ore, nickel sulfate, nickel matte, cathode, anode, kemudian cell battery, battery pack, kemudian recycle batter-nya kita sudah mempunyai the whole ecosystem-nya. Itu juga yang kita ingin laksanakan untuk bauksit, juga turunan dari kelapa sawit dan karet, kayu, pasir silika, dan yang lain-lainnya," kata Menteri Investasi.
Komoditas-komoditas strategis yang disebutkan itu, menurut Rosan, perlu dimaksimalkan, karena Indonesia punya keuntungan-keuntungan kompetitif, misalnya cadangan sumber dayanya yang cukup besar.
"Kita melihat yang kita prioritaskan, yang di mana memang ada dalam blueprint kita yang mengenai hilirisasi, dan sudah kita mempunyai competitive advantage, misalnya dari banyaknya cadangan atau reserve yang kita punyai di Indonesia," ujar Rosan.
Baca juga: Realisasi investasi semester I capai Rp1.010 T, serap 1,4 juta pekerja
Baca juga: Prabowo terima laporan Rosan FDI Semester I/2026 sejalan dengan target
Pewarta: Genta Tenri Mawangi
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.