Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan penguatan kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan One Health menjadi fondasi penting dalam membangun kemandirian bidang obat, vaksin, hingga layanan kesehatan guna mewujudkan kedaulatan kesehatan Indonesia.

Benny mengatakan, Indonesia memiliki modal besar berupa keanekaragaman hayati, bonus demografi, perkembangan teknologi digital, serta sumber daya manusia yang semakin berkualitas. Potensi tersebut harus dimanfaatkan agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi pusat inovasi dan kontributor bagi kesehatan global.

"Untuk itu dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, industri, dan regulator," ujarnya pada peluncuran Ekosistem One Health Indonesia dan Center of Excellence for Indonesia Health oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Kadin tekankan Global One Health Summit ajang pacu industri kesehatan

Oleh karena itu, katanya, setiap fakultas kedokteran tidak hanya menjadi institusi pendidikan yang melahirkan dokter-dokter hebat, tetapi juga perlu menjadi pusat inovasi yang menghasilkan solusi nyata bagi persoalan kesehatan bangsa.

"Hasil penelitian harus memberikan dampak bagi pelayanan kesehatan dan menjadi dasar penyusunan kebijakan nasional," kata Benny.

Dia mencontohkan, pengembangan vaksin tuberkulosis adalah salah satu prioritas nasional yang membutuhkan kolaborasi erat antara perguruan tinggi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bio Farma, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan Kementerian Kesehatan.

Menurut dia, Indonesia harus mampu menghasilkan inovasi kesehatan yang menjawab kebutuhan bangsa sekaligus memperkuat daya saing di tingkat global.

Baca juga: Kepala BRIN tekankan urgensi riset kesehatan berbasis "One Health"

Peluncuran Ekosistem One Health Indonesia menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, industri, lembaga riset, organisasi profesi, dan masyarakat dalam mengintegrasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan sebagai satu kesatuan.

Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Pungkas Bahjuri Ali mengatakan, pendekatan One Health menjadi kebutuhan karena sebagian besar ancaman kesehatan saat ini tidak dapat diselesaikan oleh satu sektor saja.

"Sekitar 60 persen penyakit infeksi pada manusia berasal dari hewan dan sekitar 75 persen penyakit infeksi baru bersifat zoonosis. Karena itu pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan harus dilaksanakan dalam satu sistem. Kunci keberhasilannya adalah kolaborasi lintas sektor," ujar Pungkas.

Menurut dia, pemerintah saat ini juga tengah menyusun regulasi nasional One Health yang akan menjadi acuan penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga dalam pengendalian zoonosis, penyakit tropis terabaikan, resistensi antimikroba, keamanan pangan, hingga kesehatan lingkungan.

Baca juga: Kolaborasi One Health bantu RI tekan risiko dari zoonosis prioritas
Baca juga: Wamenkes: “One Health” bangun sistem kesehatan yang tangguh

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.