AS hanya memiliki satu pilihan, yakni kembali ke meja perundingan ...
Ashgabat (ANTARA) - Duta Besar Iran untuk Turkmenistan Ali Mojtaba Rouzbahani mengatakan "tekanan maksimal" dari Amerika Serikat terhadap Iran, termasuk sanksi ekonomi yang dijatuhkan kepada Iran, telah kehilangan efektivitasnya.
Rouzbahani menyatakan tekanan tersebut tidak lagi mampu memaksa Iran untuk memberikan konsesi.
"Kebijakan tekanan maksimum yang gagal serta sanksi ekonomi yang tidak adil tak lagi mampu memaksa Iran untuk membuat konsesi," tulis diplomat tersebut dalam sebuah artikel yang diperoleh RIA Novosti, Kamis.
Keputusan AS di tahun 2018 untuk keluar dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) atau Perjanjian Nuklir Iran 2015 serta sejumlah janji yang tidak dipenuhi AS menjadi dasar munculnya krisis kepercayaan yang mendalam.
Baca juga: Iran aktifkan pertahanan udara setelah ledakan terdengar di Teheran
Kondisi itu, katanya, mendorong AS menggunakan berbagai metode yang kini telah sepenuhnya kehilangan efektivitas.
"Akar penyebab krisis saat ini dan kebuntuan yang dihadapi AS terletak pada pelanggaran komitmen yang bersejarah dan sepihak oleh Presiden Donald Trump, yang berulang kali menggagalkan proses perundingan serta melanggar nota kesepahaman dan berbagai perjanjian lain yang telah dicapai dengan Iran," jelas Rouzbahani.
Dia juga menilai seluruh instrumen tekanan terhadap Iran telah habis, sementara Iran telah membuktikan kemampuannya mempertahankan integritas wilayah dan kedaulatan nasional.
Menurut Rouzbahani, AS telah memasuki akhir dari era dominasi sepihak dan harus menerima realitas geopolitik baru di kawasan.
Baca juga: Wapres AS akui belum tahu bagaimana akhir konflik dengan Iran
AS telah merasakan konsekuensi dari penutupan Selat Hormuz, lanjutnya, sehingga kebijaksanaan politik menuntut Gedung Putih segera mengakhiri upaya penuh risiko yang tidak berguna dan mahal itu sesegera mungkin, tulis diplomat tersebut.
Rouzbahani juga berpendapat AS pada dasarnya gagal dalam upayanya menguasai Selat Hormuz.
Menurut dia, keunggulan Iran di bidang pertahanan, kemampuan rudal, dan posisi geopolitik telah menempatkan militer AS dalam "kebuntuan strategis yang mendalam"; sehingga tak mampu melanjutkan operasi militer berskala penuh maupun mundur tanpa kehilangan muka.
"Pada akhirnya, untuk mengatasi krisis buatan manusia ini secara aman, AS hanya memiliki satu pilihan, yakni kembali ke meja perundingan dan menerima dialog diplomatik yang saling menghormati dengan Iran," ujar kata Rouzbahani.
Baca juga: Iran ancam hancurkan infrastruktur di kawasan jika AS menyerang
Sementara itu, militer AS kembali melancarkan beberapa gelombang serangan terhadap Iran sejak 8 Juli.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut merupakan respons atas dugaan campur tangan Iran terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke pangkalan-pangkalan militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: AS terapkan tarif 25 persen pada barang impor asal Brasil
Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.