Moskow (ANTARA) - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres akan mengunjungi Siprus pada akhir Juli untuk mendorong negosiasi reunifikasi pulau tersebut.
Kunjungan itu menandai lawatan pertama pejabat sekjen PBB ke negara itu dalam 16 tahun terakhir, demikian dilaporkan surat kabar Politis pada Kamis (16/7), mengutip sumber-sumber diplomatik.
Pada Rabu sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Siprus menyatakan kekecewaannya atas sikap netral PBB terkait pembagian pulau tersebut menjadi wilayah Turkiye dan Yunani.
Adapun Sekjen PBB terakhir yang mengunjungi Siprus adalah Ban Ki-moon, yang melakukan kunjungan resmi ke pulau tersebut pada Januari 2010.
Berdasarkan laporan tersebut, Guterres dijadwalkan mengadakan pertemuan gabungan dengan Presiden Siprus Nikos Christodoulides dan pemimpin Siprus Turkiye Tufan Erhurman pada 29 Juli.
Pertemuan itu akan dilanjutkan dengan konferensi pers bersama, di mana sejumlah pernyataan penting mengenai isu Siprus diperkirakan akan diumumkan.
Dalam lawatan tersebut, Guterres akan didampingi oleh Wakil Sekjen PBB untuk Operasi Perdamaian Jean-Pierre Lacroix serta Wakil Sekjen PBB untuk Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian Rosemary DiCarlo.
Secara de facto, Siprus terbagi antara komunitas Yunani dan Turkiye sejak 1974.
Hal itu menyusul invasi bersenjata oleh Turkiye yang dipicu oleh kudeta di Siprus serta upaya aneksasi pulau tersebut ke Yunani.
Sebanyak 37 persen wilayah pulau itu diduduki, yang kemudian menjadi tempat diproklamasikannya Republik Turki Siprus Utara (TRNC) pada 1983.
Hingga saat ini, hanya Turkiye yang mengakui kedaulatan TRNC.
Pembicaraan yang dimediasi oleh PBB antara komunitas Yunani dan Turkiye mengenai reunifikasi Siprus terhenti setelah kegagalan putaran perundingan yang digelar di kota Crans-Montana, Swiss, pada 2017.
Saat ini, berbagai pihak tengah berupaya untuk kembali melanjutkan negosiasi tersebut.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Siprus jadi negara baru yang berencana bergabung dengan NATO
Baca juga: PM Yunani minta 'tolong' AS redakan ketegangan dengan Turki
Penerjemah: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.