Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) hingga peta jalan (roadmap) yang konsisten menjadi kunci penting dalam keberhasilan proyek-proyek hilirisasi nasional.

Pernyataan Direktur Eksekutif Celios ini menanggapi tentang upaya Danantara yang kini tengah menggarap sebanyak 26 proyek hilirisasi dengan total nilai investasi mencapai Rp225 triliun, dan diproyeksikan mampu menyerap 37.833 tenaga kerja.

“Hilirisasi akan sangat terbantu dengan SDM yang siap kerja, yang bisa langsung diserap oleh kebutuhan hilirisasi,” kata Bhima saat dihubungi di Jakarta, Jumat.

Ia menilai, jika hanya fokus pada SDM yang cakap secara teknis tapi tidak bisa berpikir lebih dalam atau menciptakan inovasi, nantinya akan ada masalah baru lagi seperti ketergantungan ke tenaga kerja asing (TKA).

Baca juga: Kemenperin pacu daya saing IKM pangan lewat hilirisasi berbasis agro

Lebih lanjut, Bhima mengatakan pemerintah perlu peta jalan yang konsisten untuk membentuk rantai industri yang kohesif dari hulu ke hilir.

“Proyek hilirisasi seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri agar bisa menciptakan ekosistem industri yang kuat,” ujarnya.

Selain itu, tantangan proyek hilirisasi lainnya adalah ketersediaan infrastruktur dan efek lingkungan. Ia mencontohkan, hilirisasi batubara dianggap proyek yang mahal dan bisa berdampak ke reputasi Danantara secara ekologi.

“Jika Indonesia memiliki visi yang kuat, koordinasi yang baik antar pemangku kepentingan, dan SDM yang mumpuni, seharusnya kita mampu menghadapi berbagai tekanan eksternal dengan strategi hukum, diplomasi ekonomi, dan desain kebijakan yang selaras dengan aturan internasional terutama terkait aspek lingkungan,” jelasnya.

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.