Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas lahan yang hangus terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Kamis (16/7) mencapai sedikitnya 25 hektare.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Jumat, mengatakan kondisi cuaca kering dan embusan angin kencang di wilayah tersebut menjadi salah satu faktor yang memicu meluasnya area kebakaran.

"Dalam peristiwa karhutla cuaca yang panas dan kering ditambah derasnya angin juga berkontribusi dalam luasan lahan yang terbakar," kata dia.

Meskipun sempat meluas, dia memastikan bahwa kobaran api yang melanda kabupaten di ujung barat Pulau Flores tersebut akhirnya berhasil dipadamkan sepenuhnya oleh petugas tim gabungan pada Kamis (16/7).

Baca juga: BNPB: Penyebab karhutla di Padang Lawas Utara dalam penyelidikan

Direktorat Pengendalian Operasi BNPB sebelumnya melaporkan berdasarkan laporan kronologi kejadian, titik api pertama kali terdeteksi muncul pada Rabu (15/7), sekitar pukul 14.18 Wita.

Lokasi kebakaran lahan yang menghanguskan puluhan hektare vegetasi kering tersebut tepatnya berada di Kelurahan Labuan Bajo, Kecamatan Komodo.

Sebagaimana laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Barat, katanya, tidak ada korban jiwa akibat kebakaran tersebut.

Guna mencegah kejadian serupa terulang, BNPB mengimbau masyarakat dan pelaku wisata di Labuan Bajo untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu percikan api, seperti membuang puntung rokok sembarangan atau membakar sampah di area terbuka.

"Kami meminta pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap waspada dan siap siaga menghadapi karhutla, pencegahan merupakan upaya efektif," kata dia.

Baca juga: BNPB: Karhutla di Kalsel berhasil dipadamkan

Baca juga: BNPB: Penanganan maksimal karhutla yang kembali terjadi di Sukoharjo

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.