Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengawal keamanan Vaksin Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat pertama produksi dalam negeri hasil kolaborasi Universitas Indonesia (UI) dan Bio Farma, sebagai upaya memperkuat ketahanan kesehatan nasional sekaligus melindungi masyarakat.
Kepala BPOM Taruna Ikrar di Jakarta, Jumat, mengatakan bahwa kolaborasi itu adalah jawaban strategis di tengah tingginya beban kasus demam tifoid sekaligus upaya memutus ketergantungan impor bahan baku obat dan vaksin yang saat ini masih mencapai 94 persen.
Menurutnya, tingginya angka ketergantungan impor menjadi risiko besar bagi pertahanan kesehatan nasional saat terjadi krisis global.
"Sebagai wujud nyata perlindungan terhadap masyarakat agar segera mendapatkan akses proteksi, BPOM memproses registrasi produk ini melalui jalur khusus obat pengembangan baru dengan target lini masa 100 hari kerja," kata Taruna.
Ia mengatakan, kemandirian obat dan vaksin mutlak diperlukan untuk menjamin keselamatan rakyat. Penilaian vaksin Bio-TCV dilakukan secara komprehensif terhadap seluruh aspek mutu, keamanan, dan khasiat sebelum memberikan persetujuan nomor izin edar (NIE) pada 2023.
Hingga saat ini, BPOM telah menyetujui 3 produk vaksin tifoid yaitu Vivaxim, Typhim Vi, dan Bio-TCV.
Pihaknya pun mengawal pelaksanaan uji klinik yang seluruhnya dilakukan di Indonesia atas kerja sama Bio Farma dan FKUI. BPOM secara aktif memastikan pemenuhan standar cara pembuatan obat yang baik (CPOB) terkini di fasilitas produksi, memantau keandalan rantai dingin (cold chain) dalam sistem distribusi, hingga menjalankan farmakovigilans.
Baca juga: BPOM: Vaksin dengue mRNA RI-China langkah perkuat kemandirian farmasi
Berdasarkan data e-was.pom.go.id periode Januari 2025–Juli 2026, Vaksin tifoid ini telah diproduksi sebanyak 2 bets atau 84.719 vial. Sementara data Bio Farma per 13 Juli 2026 mencatat total produksi setara 208.235 dosis, dengan 30.875 dosis di antaranya telah didistribusikan.
Taruna juga menyebutkan bahwa produksi vaksin ini dapat menekan ancaman resistensi antimikroba yang timbul karena penggunaan antibiotik yang masif. Tingginya kasus infeksi bakteri Salmonella typhi yang menjadi penyebab tifoid, katanya, memicu masifnya penggunaan antibiotik di masyarakat.
Senada, Ketua Panitia Med-Expo FKUI 2026 Mohammad Kurniawan menyatakan bahwa sinergi kokoh lintas sektor diperlukan agar hasil riset anak bangsa dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Indonesia menghadapi tantangan kesehatan yang kompleks, mulai dari beban ganda penyakit hingga tuntutan resiliensi vaksin. Tidak ada satu sektor pun yang bisa bergerak sendiri; kita butuh sinergi antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat. Peluncuran One Health Indonesia Ecosystem dan Vaksin Bio-TCV hari ini adalah bukti nyata keberhasilan kolaborasi tersebut," ujar Mohammad Kurniawan.
Secara medis, katanya, data uji klinik vaksin tifoid ini membuktikan efikasi dan keamanan yang sangat baik dengan standar mutu internasional. Hampir 100 persen subjek (dewasa, anak, dan bayi) mengalami kenaikan antibodi signifikan hingga 4 kali lipat dari baseline dengan persistensi yang baik hingga satu tahun pascavaksinasi.
Efek samping yang timbul hanya bersifat ringan hingga sedang, seperti nyeri di tempat suntikan, demam, dan nyeri otot. Vaksin ini disetujui untuk imunisasi aktif mulai dari bayi usia 6 bulan ke atas hingga dewasa dengan dosis tunggal 0,5 mL melalui injeksi intramuskular.
"Proteksi optimal yang tercapai 3–4 minggu pascaimunisasi ini diharapkan dapat memberikan perlindungan optimal bagi kelompok balita yang selama ini belum terproteksi maksimal oleh vaksin tifoid jenis lain," katanya.
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.