Moskow (ANTARA) -

Jerman mengusulkan pembentukan misi penjaga perdamaian di Lebanon di bawah naungan Uni Eropa (EU) setelah mandat Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) berakhir, kata Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul pada Jumat.

Pada akhir Juni lalu, parlemen Jerman menyetujui perpanjangan partisipasi militer negara itu dalam misi UNIFIL hingga 31 Desember 2026.

Setelah itu, tugas operasional misi tersebut akan diakhiri.

"Kita perlu membahas di Uni Eropa apakah kita dapat memastikan tidak terjadi kekosongan keamanan di Lebanon setelah berakhirnya misi UNIFIL," kata Wadephul dalam wawancara dengan kelompok media RND.

Menurut Wadephul, Lebanon saat ini mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.

Wadephul mengatakan, sebagai bagian dari Eropa, Jerman harus "melakukan segala upaya yang dimiliki untuk memastikan proses tersebut terus bergerak ke arah yang positif."

Baca juga: Lebanon: Ketentuan perjanjian dengan Israel merupakan konsesi serius

Dia mengatakan misi Uni Eropa nantinya akan membantu menciptakan kondisi yang memungkinkan pasukan bersenjata Israel menarik diri dari Lebanon sekaligus mencegah kelompok Hizbullah kembali memperkuat posisinya.

Pada 24 April lalu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menyatakan bahwa Uni Eropa sedang mempertimbangkan pengiriman misi sendiri ke Lebanon selatan setelah UNIFIL menyelesaikan mandatnya.

Pada akhir Agustus 2025, Dewan Keamanan PBB memperpanjang mandat UNIFIL hingga 31 Desember 2026.

Setelah itu, misi tersebut akan memulai proses penarikan bertahap selama satu tahun.

Saat ini, kontingen penjaga perdamaian UNIFIL beranggotakan lebih dari 10.000 personel yang berasal dari 48 negara.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti​​​​​​​

Baca juga: Hari kedua negosiasi Lebanon-Israel di Roma berakhir

Penerjemah: Primayanti
Editor: Bayu Prasetyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.