Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) siap memperkuat pendampingan darurat bagi wilayah yang terisolasi akibat bencana tanah longsor di Kecamatan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Kepala BNPB Suharyanto dalam keterangan di Jakarta, Jumat, mengatakan bahwa instruksi tersebut ditujukan langsung kepada Kedeputian Penanganan Darurat BNPB guna mempercepat pemberian bantuan penanganan di lapangan.
"Kami terus memantau perkembangan hasil kaji cepat di lapangan dan dalam kesempatan pertama saya perintahkan tim untuk menuju ke sana," kata dia.
Dia menjelaskan bahwa bencana tanah longsor yang dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi pada kondisi tanah labil itu terjadi sejak Selasa (7/7) lalu dan memutus akses jalan penghubung utama antara Kecamatan Krayan Barat dan Krayan Selatan.
Akibat terputusnya akses transportasi darat tersebut, sebanyak 460 kepala keluarga atau sekitar 1.507 jiwa yang tersebar di 13 desa di Kecamatan Krayan Selatan kini berada dalam kondisi terisolasi.
Baca juga: BNPB: Dampak tanah longsor di Banjar Kalsel dalam penanganan petugas
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB berdasarkan asesmen lapangan melaporkan ke-13 desa terdampak tersebut meliputi Long Pa’sia, Liang Lunuk, Long Budung, Pa’ Dalan, Pa’ Urang, Pa’tera, Pa’ Sing, Long Pupung, Pa’ Upan, Long Birar, Pa’ Kaber, Pa’ Amai, dan Desa Pa’ Ibang.
Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menambahkan bahwa selain menutup jalan, longsor juga menyebabkan jembatan penghubung utama rusak berat sehingga menghentikan sementara distribusi logistik serta pasokan bahan bakar minyak (BBM) dari Desa Long Bawan menuju Desa Long Kayu.
Menurut dia, terhambatnya pasokan BBM tersebut berdampak langsung pada layanan kelistrikan warga, di mana pasokan listrik yang biasanya menyala hingga 12 jam kini merosot drastis menjadi hanya empat jam mulai pukul 18.00 hingga 22.00 waktu setempat.
Merespons eskalasi dampak bencana yang kian meluas, Pemerintah Kabupaten Nunukan telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Alam Tanah Longsor selama 14 hari, terhitung tanggal 15-28 Juli 2026.
Baca juga: BNPB: Potensi tanah longsor tinggi, perlu jadi perhatian
"Saat ini kebutuhan paling mendesak bagi masyarakat terdampak meliputi pasokan BBM untuk operasional pembangkit listrik, obat-obatan, susu balita, serta kebutuhan pokok seperti beras dan bahan pangan lainnya," kata dia.
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.