Jakarta (ANTARA) - Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI memperkuat kolaborasi nasional dalam membangun ekosistem pengumpul zakat yang profesional melalui penyelenggaraan Baznas Fundraising Forum (BFF) yang digelar beberapa waktu lalu.

Melalui keterangan di Jakarta, Sabtu, Pimpinan Baznas RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan Rizaludin Kurniawan, menyampaikan dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) para amil perlu meninggalkan pendekatan penghimpunan yang mengandalkan belas kasihan dan beralih pada strategi yang berbasis keilmuan, kemudahan, serta transparansi.

"Zakat itu harus dibuat jelas, menarik, dan mudah. Alur ini tidak boleh dibalik. Kita tidak bisa sekadar memaksa atau memelas terlebih dahulu dengan mengatasnamakan zakat, infak, dan sedekah," katanya.

Ia menilai praktik penghimpunan yang mengeksploitasi kesusahan tidak sejalan dengan misi dakwah zakat. Sebaliknya, lembaga zakat harus membangun pendekatan yang profesional agar masyarakat terdorong menunaikan zakat karena memahami manfaatnya dan merasakan kebahagiaan dalam berbagi.

Ia menegaskan, fundraising merupakan profesi yang memiliki landasan keilmuan, etika, kompetensi, serta standar praktik yang jelas.

Karena itu, strategi penghimpunan dana ZIS harus disusun berdasarkan pendekatan yang terukur, bukan sekadar mengandalkan empati sesaat.

"Kita harus menggunakan ilmu, jangan sekadar mengira-ngira atau mengandalkan belas kasihan dengan cara menjual ‘air mata’ atau kesusahan orang lain," ujarnya.

Rizaludin mengungkapkan terdapat dua pendekatan utama dalam penghimpunan zakat di Indonesia, yakni pendekatan regulasi (by law) yang didukung kebijakan pemerintah serta pendekatan pemasaran (by marketing) melalui kampanye kreatif dan pelayanan kepada muzaki.

"Di Baznas RI, kita mencoba mengombinasikan kedua hal tersebut agar para pembayar zakat mendapatkan pelayanan, pengalaman, dan perubahan spiritual yang transformatif di dalam dirinya," lanjut dia.

Sebagai lembaga filantropi, Rizaludin menekankan urgensi membangun kepercayaan publik dan memperkuat profesionalisme amil merupakan fondasi utama dalam pengelolaan zakat.

Selain itu, lanjut dia, diperlukan perluasan kolaborasi dengan pemerintah, ulama, dan berbagai lembaga, peningkatan jumlah serta kapasitas amil profesional, sosialisasi dampak program zakat, hingga penguatan sinergi antarlembaga filantropi.

Menanggapi hal tersebut, Pembina Yayasan Daarut Tauhid Peduli, KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, memaparkan konsep dakwah zakat yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Menurutnya, keberhasilan lembaga pengelola zakat dalam membangun kepercayaan publik bergantung pada empat aspek utama, yakni layanan yang jelas, menarik, mudah diakses, dan mampu memberikan kepuasan kepada muzaki.

"Kita harus membuat muzaki yang berzakat itu memahami bahwa zakatnya benar-benar sampai kepada yang berhak. Sesuatu yang jelas, menarik, mudah prosedurnya, dan memuaskan akan mendatangkan komitmen, menjadi kebiasaan yang baik, serta bisa menular kepada yang lain," ucap Aa Gym.

Baca juga: Baznas ajak Jamiyah Singapore kolaborasi perkuat pemberdayaan mustahik

Baca juga: Program Rumah Terang Baznas ditargetkan jangkau ribuan rumah

Baca juga: Baznas RI gandeng Pemkab Kuningan perkuat sinergi tata kelola zakat

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.