Jakarta (ANTARA) - Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyiapkan relawan untuk mendampingi calon mahasiswa disabilitas dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru (penmaba) mandiri jalur disabilitas pada tahun 2026 guna memastikan proses seleksi berjalan inklusif dan akses pendidikan tinggi yang setara.
“UNJ berupaya memastikan setiap calon mahasiswa memperoleh kesempatan yang setara untuk menunjukkan potensi akademiknya. Karena itu, layanan pendukung terus kami siapkan agar proses seleksi berjalan secara adil dan aksesibel," kata Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni UNJ Ifan Iskandar dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, penyediaan layanan yang inklusif tidak hanya berhenti pada proses penerimaan mahasiswa baru, tetapi juga berlanjut selama mahasiswa menjalani pendidikan di kampus.
Untuk memastikan seluruh peserta dapat mengikuti proses seleksi dengan baik, UNJ menyediakan berbagai bentuk pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing peserta.
Peserta tunanetra, autisme, maupun ADHD memperoleh dukungan dari Relawan Disabilitas UNJ (REDIS) yang mendampingi sejak kedatangan di kampus hingga seluruh tahapan seleksi selesai.
Selain itu, panitia juga menempatkan juru bahasa isyarat di ruang-ruang ujian guna membantu peserta dengan hambatan pendengaran mengikuti ujian tanpa kendala komunikasi.
Koordinator REDIS Penmaba Disabilitas, Prila Ahdanila, mengatakan kebutuhan pendampingan peserta telah dipetakan sejak sebelum pelaksanaan ujian. Data peserta dan kebutuhan layanan diperoleh dari Kantor Admisi untuk kemudian disesuaikan dengan jumlah relawan yang tersedia.
“Relawan membantu mobilisasi peserta dan menjembatani komunikasi antara panitia dengan peserta disabilitas, sementara proses administrasi dan verifikasi tetap ditangani oleh pihak Admisi,” ujarnya.
Tahun ini, REDIS mengerahkan 65 relawan yang berasal dari berbagai angkatan dan program studi. Selain anggota aktif, relawan juga direkrut dari angkatan sebelumnya guna memastikan seluruh kebutuhan pendampingan dapat terpenuhi selama proses seleksi berlangsung.
Prila menambahkan para relawan telah mendapatkan pelatihan bahasa isyarat dan pendampingan disabilitas secara berkala. Mereka tidak hanya mendampingi peserta saat ujian tertulis, tetapi juga pada tahap wawancara.
Adapun tahun ini, jumlah peserta penmaba mandiri jalur disabilitas mencapai 138 orang, naik sekitar 9,6 persen dibandingkan tahun 2025 yang berjumlah 125 orang.
Tiga fakultas yang paling banyak diminati peserta jalur disabilitas tahun ini adalah Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Pendidikan, serta Fakultas Bahasa dan Seni. Sementara itu, program studi yang mencatat jumlah peminat tertinggi adalah Program Sarjana Terapan Seni Kuliner dan Pengelolaan Jasa Makanan.
Kepala Kantor Admisi UNJ, I Wayan Sugita, mengatakan peningkatan jumlah peserta menunjukkan semakin besarnya minat penyandang disabilitas untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Di sisi lain, hal itu juga mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan pendidikan inklusif yang disediakan UNJ.
“Jumlah peserta tahun ini mencapai 138 orang. Kenaikan ini menunjukkan semakin banyak penyandang disabilitas yang tertarik melanjutkan pendidikan tinggi dan melihat UNJ sebagai pilihan untuk melanjutkan studi,” ujar Wayan.
Baca juga: Wajah semringah siswa disabilitas wujudkan mimpi kunjungi Istana
Baca juga: DKI jamin disabilitas dan korban PHK miliki kesempatan kerja
Baca juga: Layanan digital pemerintah harus dapat diakses penyandang disabilitas
Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Mentari Dwi Gayati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.