Jakarta (ANTARA) - Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk menjaga ruang-ruang publik tetap terbuka sebagai wadah masyarakat berkumpul, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat secara inklusif serta demokratis.
"Komitmen kami jelas. Jakarta harus tetap menjadi kota tempat masyarakat bebas berkumpul, berpendapat, dan berdiskusi tanpa rasa takut," katanya dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Rano yang menghadiri kuliah umum bertajuk "Jalan Buntu Reformasi" di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, menjelaskan bahwa TIM merupakan ruang kebudayaan yang memiliki peran penting dalam merawat ingatan kolektif bangsa.
"Jakarta sebagai kota metropolitan harus didukung oleh ekosistem ruang publik yang mendorong tumbuhnya budaya dialog," ucapnya.
Rano menilai tidak hanya TIM, kawasan kampus serta ruang publik lainnya di Jakarta juga harus selalu terbuka bagi penyelenggaraan forum-forum diskusi ilmiah dan kritis.
Dalam kesempatan tersebut, Wagub Rano turut merefleksikan transformasi sosial Jakarta melalui analogi kisah budaya populer "Si Doel".
Ia menilai kisah tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan representasi nyata dari perjuangan masyarakat dalam menghadapi tantangan modernisasi, penataan kota, dan pemenuhan kebutuhan hunian.
Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa perjuangan masyarakat untuk memperoleh akses pendidikan, lapangan pekerjaan, serta hunian yang layak harus menjadi pijakan utama dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pembangunan di Jakarta.
"Semangat kepedulian sosial harus hadir secara nyata dalam bentuk kebijakan, bukan sekadar pidato formal. Indikator keberhasilan setiap kebijakan di Jakarta adalah sejauh mana kebijakan tersebut mampu mempermudah dan memanusiakan kehidupan warga," ujar Rano.
Menanggapi dinamika pembangunan dan tantangan reformasi yang dipaparkan oleh Guru Besar Studi Asia University of Melbourne Profesor Vedi R. Hadiz, Wagub Rano mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap optimistis. Ia pun mengutip salah satu filosofi masyarakat Betawi dalam menghadapi setiap persoalan.
"Orang Betawi memiliki ungkapan, 'Kalau jalan buntu jangan berhenti, cari gang, cari lorong'. Jakarta adalah kota seribu gang. Melalui ruang-ruang kecil yang humanis, warga berinteraksi dan berdiskusi, dan dari sanalah solusi-solusi pragmatis untuk memajukan kota kerap lahir," katanya menambahkan.
Acara kuliah umum tersebut turut dihadiri oleh Anggota DPR RI yang juga sejarawan Bonnie Triyana, perwakilan berbagai organisasi kelompok masyarakat, serta ratusan mahasiswa dari berbagai daerah.
Usai mengikuti jalannya kuliah umum, Wagub Rano Karno menutup agenda dengan meninjau Pameran Seni Kolaboratif bertajuk "EVANESCENCE" di Galeri Cipta 1 TIM.
Peninjauan ini menjadi wujud dukungan nyata Pemprov DKI Jakarta terhadap perkembangan seni rupa kontemporer sekaligus memperkuat fungsi TIM sebagai ruang kreativitas dan ekspresi budaya yang terbuka bagi publik.
Baca juga: Perpustakaan Jakarta perkuat posisi sebagai ruang publik inklusif
Baca juga: Rano tantang Jakarta PROVOKE! gunakan ruang terbuka di Senayan-HI
Baca juga: Urban Knowledge Hub, ruang pembelajaran teknologi dan sains di Jakarta
Pewarta: Ilham Kausar
Editor: Mentari Dwi Gayati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.