Namun, di atas semua cerita ini, dunia akhirnya terpuaskan menyaksikan tim terbaik naik ke podium juara Piala Dunia 2026. Mereka tampil tak terkalahkan, hanya kebobolan satu gol, dan konsisten menyerang sepanjang turnamen.

Jakarta (ANTARA) - Raja Eropa akhirnya menaklukkan dunia. Sukses Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026, mengulang pola 16 tahun silam ketika mereka menjuarai Piala Dunia 2010 setelah dua tahun menjuarai Piala Eropa.

Finalissima pertama yang terjadi dalam Piala Dunia ini dimenangkan oleh juara Eropa yang tampil sempurna di semua sektor, sedangkan Argentina yang juara Copa America harus puas sebagai runner up.

Finalissima adalah konsep pertemuan antara juara Piala Eropa dengan juara Copa America.

Gol semata wayang Ferran Torres pada menit ke-106 mengubur impian Argentina mendapatkan Piala Dunia keempatnya dan gagal mengulang pencapaian Brasil sebagai tim yang berhasil mempertahankan gelar juara dunia, sekaligus mencegah Lionel Messi mendapatkan Piala Dunia keduanya.

Menerima assist dari Nico Williams yang sama-sama diturunkan sebagai pemain pengganti, Torres akhirnya menaklukkan kiper Argentina Emiliano Martinez yang membuat penampilan fantastis dengan 12 penyelamatan gemilang, sampai menit ke-106.

Nico Williams baru berusia 24 tahun, sedangkan Ferran Torres dua tahun lebih tua (26 tahun), yang juga usia rata-rata pemain Spanyol dalam Piala Dunia edisi 48 tim ini.

Dengan rata-rata usia 26 tahun, Spanyol adalah salah satu dari 12 tim Piala Dunia 2026 yang diisi pemain-pemain muda.

Paling muda di antara ke-12 tim itu adalah Pantai Gading yang memiliki skuad rata-rata berusia 25 tahun.

Muda berarti energi yang lebih segar, tetapi juga kerap diasosiasikan dengan ketidakmatangan emosi. Namun selama 120 menit menghadapi Argentina yang adalah salah satu skuad berusia tua, rata-rata 29 tahun, tim muda asuhan Luis de la Fuente malah menjadi tim yang lebih matang secara emosi.

Mereka tak terpancing provokasi pemain-pemain Argentina, dengan fokus pada rencana bermain mereka, tanpa harus berlebihan mematikan Lionel Messi.

De la Fuente justru mematikan Messi dengan menutup aliran bola dan umpan kepada superstar sepak bola yang gagal menyabet penghargaan Golden Boot, yang harus ia relakan jatuh ke tangan pemain Prancis, Kylian Mbappe.

Skuad muda Spanyol ini sudah tentu lebih kuat dan energik ketimbang skuad tua Argentina.

Baca juga: Spanyol juara Piala Dunia 2026 lewat gol extra time Ferran Torres

Baca juga: Daftar juara Piala Dunia, Spanyol dapatkan bintang kedua

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.