Pasar yang tertib memang penting. Namun, pasar yang hidup jauh lebih penting. Ketika keteraturan ruang dapat berjalan seiring dengan keberlangsungan usaha rakyat, kota bukan hanya menjadi lebih rapi, melainkan juga semakin adil.

Surabaya (ANTARA) - Pasar selalu tumbuh mengikuti denyut kehidupan kota. Di sela bangunan permanen yang teratur, selalu ada ruang yang kemudian dipenuhi lapak sederhana, gerobak, hingga tikar dagangan.

Di Kota Surabaya, Jawa Timur, ruang itu dikenal sebagai pasar tumpah yang lahir bukan semata-mata karena ketiadaan aturan, melainkan karena bertemunya kebutuhan ekonomi warga dengan arus pembeli yang terus bergerak.

Fenomena ini telah lama menjadi wajah ganda perkotaan.

Di satu sisi, pasar tumpah menghadirkan akses pangan murah, membuka lapangan usaha, dan menggerakkan ekonomi keluarga. Di sisi lain, keberadaannya kerap memakan badan jalan, mengganggu lalu lintas, menimbulkan persoalan kebersihan, hingga menciptakan persaingan yang tidak seimbang dengan pedagang yang berjualan resmi di dalam pasar.

Karena itu, penataan pasar tumpah tidak pernah sesederhana memindahkan pedagang dari satu titik ke titik lain. Di balik setiap lapak terdapat penghasilan keluarga, pelanggan yang telah dibangun bertahun-tahun, dan ekosistem ekonomi yang berkembang secara alami.

Langkah Pemerintah Kota Surabaya yang menyiapkan sekitar 2.700 stan kosong di pasar milik PT Pasar Surya Perseroda menjadi pendekatan yang menarik. Penataan tidak berhenti pada penertiban, tetapi disertai penyediaan ruang usaha tanpa biaya sewa bagi pedagang yang direlokasi.

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa penegakan aturan dapat berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap pelaku usaha mikro.

Informasi mengenai penyediaan stan gratis, sekitar 570 stan Sentra Wisata Kuliner, serta pengawasan terhadap penyalahgunaan stan menjadi bagian dari strategi yang lebih komprehensif dibanding sekadar operasi penertiban.

Baca juga: Merawat nadi pasar rakyat


Ruang ekonomi

Pasar tumpah sesungguhnya merupakan cermin dinamika ekonomi informal Indonesia. Badan Pusat Statistik menunjukkan sektor informal masih menjadi penopang utama lapangan kerja nasional. Jutaan pelaku usaha kecil memilih berdagang dengan modal terbatas karena relatif mudah dimasuki tanpa persyaratan yang rumit.

Surabaya tidak berbeda. Kota ini menjadi pusat perdagangan terbesar di Jawa Timur dengan mobilitas masyarakat yang sangat tinggi. Ketika arus pembeli berkumpul di sekitar pasar tradisional, terminal, atau kawasan permukiman, pedagang pun mengikuti pergerakan konsumen.

Di sinilah muncul persoalan mendasar. Pasar tumpah berkembang berdasarkan logika permintaan pasar, sedangkan tata kota bekerja berdasarkan logika keteraturan ruang. Kedua kepentingan itu sering kali bertemu dalam situasi yang saling bertabrakan.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.