Manokwari (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Papua Barat mencatat nilai transaksi pameran produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) selama penyelenggaraan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV di Manokwari, pada 18-28 Juni 2026 kurang lebih mencapai Rp1,2 miliar.

Kepala Dinas Pariwisata Papua Barat Jafar Werfete di Manokwari, Senin, mengatakan penjualan produk kriya seperti tas rajut noken, miniatur rumah adat, serta batik Papua memberikan kontribusi paling signifikan dibanding produk kuliner dan lainnya.

"Kami hanya mencatat transaksi langsung dengan total kurang lebih sebanyak Rp1,2 miliar," kata Jafar selaku panitia pameran UMKM Pesparawi Nasional XIV.

Menurut dia, capaian tersebut menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam merancang konsep kegiatan atau festival lainnya yang memberikan dampak positif terhadap upaya pengembangan sektor pariwisata dan UMKM di seluruh wilayah Papua Barat.

Pemerintah daerah tentunya akan berkolaborasi dengan berbagai komunitas maupun kementerian/lembaga, seperti Komando Daerah Militer (Kodam) XVIII/Kasuari yang dalam waktu dekat akan menyelenggarakan Festival Raimuti di Manokwari, pada 6 hingga Agustus 2026.

"Pameran UMKM saat Pesparawi itu kami menargetkan transaksi belanja langsung berkisar Rp600 juta, tapi realisasinya melampaui target. Ini sesuatu yang bagus," ujarnya.

Baca juga: BI Papua sebut transaksi UMKM selama Feskop 2024 capai Rp1 miliar

Baca juga: Jumlah transaksi digital UMKM di Papua dan Maluku naik 2,5 kali lipat

Saat ini, kata dia, pemerintah provinsi fokus mengembangkan ekowisata dengan landscape berbasis budaya atau pendekatan penataan kawasan yang mengutamakan keberagaman nilai-nilai budaya, sejarah, adat istiadat, serta identitas masyarakat lokal Papua.

Ada dua destinasi wisata prioritas berdasarkan dokumen rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) maupun rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD), yaitu kawasan Teluk Triton di Kaimana dan wisata alam Pegunungan Arfak.

"Pengembangan pariwisata memiliki multiplier effect terhadap sektor lainnya seperti UMKM. Sehingga, perlu ada kolaborasi lintas sektor," katanya.

Menurut dia, pengembangan kawasan wisata bahari Teluk Triton di Kabupaten Kaimana maupun wisata alam di Pegunungan Arfak yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati, wajib memperhatikan konsep utama 3A yakni atraksi, aksesibilitas, dan amenitas.

Penerapan konsep 3A merupakan hal yang sangat penting karena pembangunan sektor pariwisata tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat secara berkelanjutan.

"Kita ketahui bersama bahwa Papua Barat ini tidak hanya punya keindahan alam dan budaya, tapi banyak pelaku UMKM jualan produk-produk yang identik dengan Papua," katanya.

Baca juga: Transaksi Gebyar UMKM Nobar Piala Dunia Karawang tembus Rp1,2 miliar

Baca juga: BI Jember: Transaksi penjualan "SAMARA" Bondowoso capai Rp900 juta

Baca juga: BNI Tebar Promo di Puspa Nuswantara 2026, Dorong Transaksi Digital UMKM Batik

Pewarta: Fransiskus Salu Weking
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.