Semarang (ANTARA) - Komisi VII DPR RI akan berkomunikasi dengan PT KAI mengenai pembangunan stasiun di Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) Semarang, Jawa Tengah, sebagai respons atas usulan para buruh yang bekerja di kawasan industri tersebut.

"Konektivitas dan akses sudah ada, tetapi kereta tidak berhenti di kawasan industri ini," kata Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty saat memimpin kunjungan Panitia Kerja RUU Kawasan Industri di Semarang, Senin

Menurut dia, pekerja di kawasan industri tersebut cukup banyak, sehingga disampaikan usulan untuk dibangun stasiun.

"Ini tanggung jawab kami untuk bicara dengan PT KAI," tambahnya.

Catatan lain dalam kunjungan tersebut, kata dia, letak Kawasan Industri Wijayakusuma yang berada di perkotaan Semarang.

Ia menyebut terdapat beberapa isu yang berkaitan dengan posisi KIW yang berada pada wilayah dengan populasi padat, seperti masalah pengolahan limbah hingga upaya untuk mengantisipasi penurunan permukaan tanah.

Sejumlah anggota Komisi VII DPR saat mengunjungi pabrik furnitur PT Philnesia Internasional yang berlokasi di Kawasan Industri Wijayakusuma Semarang, Jateng, Senin (20/7/2026). (ANTARA/I.C. Senjaya)



Saat kawasan industri ini dibangun pada 1998, lanjut dia, Kota Semarang belum berkembang pesat seperti sekarang ini.

Menurut dia, kawasan industri ini sudah memiliki sistem pengolahan sampah mandiri serta tidak memiliki masalah berkaitan dengan pasokan air bersih.

Ia mengatakan RUU Kawasan Industri akan menjawab permasalahan yang dihadapi oleh pengelola maupun pelaku usaha yang ada di dalamnya.

"Kita harus siap dengan perubahan. Tidak bisa kita mengatur secara tradisional, sementara perkembangan kawasan industri sudah berbeda," katanya.

Baca juga: Pandeglang siapkan kawasan industri di lima kecamatan

Baca juga: Komisi VII DPR tekankan penguatan sanksi pada RUU Kawasan Industri

Baca juga: Menperin sebut prinsip RUU Kawasan Industri permudah investasi


Pewarta: Immanuel Citra Senjaya
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.