Jakarta (ANTARA) - Perusahaan PT Artha Telekomindo (Arthatel) menghadirkan layanan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) terintegrasi yang mendukung transformasi digital perusahaan.
Direktur Komersil Arthatel Sumiro Oemar dalam siaran pers di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa transformasi digital saat ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis bagi setiap perusahaan untuk tetap kompetitif.
Menurut Sumiro, pada era AI dan ekonomi digital, perusahaan membutuhkan mitra teknologi yang tidak hanya mampu menyediakan konektivitas, tetapi juga menghadirkan solusi yang aman, mampu beradaptasi dan mampu mengikuti perkembangan bisnis.
Baca juga: Kemenperin pacu transformasi digital industri farmasi lewat adopsi AI
“Arthatel berkomitmen menjadi mitra strategis teknologi yang membantu pelanggan dalam upaya mempercepat transformasi digital melalui layanan TIK yang terintegrasi, mulai dari jaringan, managed services, hingga data security," ujar Sumiro.
Salah satu layanan unggulan Arthatel adalah Managed Services yang memungkinkan perusahaan mengelola kebutuhan operasional teknologi informasi secara lebih efisien. Layanan itu mencakup Managed Network Services, Managed IT Operation Services, Cloud Computing Managed Services, hingga Managed Event Services.
Dengan model layanan berbasis Operational Expenditure (Opex), perusahaan dapat mengoptimalkan investasi teknologi tanpa harus membangun sumber daya TI secara mandiri.
Arthatel juga menyediakan layanan end-to-end mulai dari instalasi, konfigurasi, pemeliharaan, monitoring jaringan, hingga dukungan teknis melalui tim profesional yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.
Pendekatan tersebut memungkinkan pelanggan untuk lebih fokus mengembangkan bisnis inti, sementara pengelolaan infrastruktur teknologi dilakukan secara profesional dengan standar layanan yang tinggi.
Sumiro menyampaikan bahwa tantangan bisnis saat ini tidak hanya berkaitan dengan kecepatan akses internet, tapi juga kesiapan infrastruktur digital dalam menghadapi peningkatan volume data, kebutuhan komputasi, serta ancaman keamanan siber yang terus berkembang.
Peningkatan adopsi artificial intelligence (AI/kecerdasan buatan) dan kebutuhan transormasi digital diperkirakan berdampak kepada pertumbuhan sektor TIK. Berbagai sektor, mulai dari keuangan, kesehatan, pendidikan, manufaktur, hingga ritel, kini semakin bergantung kepada infrastruktur digital yang mampu mendukung proses bisnis.
Baca juga: Pengamat nilai digitalisasi kunci transformasi pasar tradisional
Baca juga: Surge perluas layanan fixed broadband berbasis Wi-Fi 7
Baca juga: Menkomdigi: Transformasi digital harus dukung peningkatan kebudayaan
Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.