Surabaya (ANTARA) - Di sebuah rumah sakit, waktu sering kali terasa berjalan lebih lambat daripada detik yang sebenarnya. Bagi orang sehat, menunggu mungkin hanya soal kesabaran. Namun, bagi mereka yang sedang menahan nyeri, mendampingi anggota keluarga yang sakit, atau membawa anak kecil untuk berobat, setiap menit memiliki arti yang jauh lebih besar. Di ruang tunggu itulah mutu pelayanan publik sesungguhnya diuji.
Karena itu, ketika Pemerintah Kota Surabaya membenahi sistem antrean dan layanan farmasi di RSUD Dr Mohamad Soewandhie, yang sedang diperbaiki bukan sekadar alur pelayanan. Lebih dari itu, pemerintah sedang berupaya mengembalikan kepastian, rasa adil, dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan.
Langkah tersebut muncul setelah berbagai masukan warga disampaikan melalui kanal pengaduan Lapor Cak Eri. Dari evaluasi itu, ditemukan sejumlah persoalan yang tampak sederhana, tetapi berdampak besar terhadap pengalaman pasien, mulai dari penumpukan antrean, ketidakjelasan ruang tunggu, hingga lamanya pelayanan obat nonracikan.
Pemerintah kota kemudian merespons dengan pembenahan yang lebih terukur, termasuk pengaturan antrean berbasis waktu kedatangan, pemisahan ruang tunggu, percepatan pelayanan farmasi, serta pemberian kompensasi apabila standar waktu pelayanan tidak terpenuhi.
Pembenahan tersebut menjadi contoh bahwa kualitas pelayanan kesehatan tidak selalu ditentukan oleh pembangunan gedung baru atau pengadaan alat medis yang mahal. Perbaikan kecil dalam manajemen pelayanan justru sering kali memberikan dampak yang langsung dirasakan masyarakat.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.