Selain bisa dijadikan sebagai komoditas industri tersendiri, hasil dari spirulina sangat mendukung kegiatan industri perikanan. Spirulina bisa menjadi enrichment (pengayaan nutrisi) pada pakan untuk kegiatan pembenihan dan pembesaran

Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan mikroalga jenis spirulina (Spirulina platensis) sebagai solusi inovatif untuk mendukung sistem peternakan ikan (akuakultur) dan industri perikanan yang berkelanjutan di Indonesia.

Peneliti Pusat Riset Budidaya Laut BRIN Siti Faridah dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa, memaparkan spirulina memiliki potensi luar biasa sebagai bahan baku pakan fungsional, baik pada fase pembenihan maupun pembesaran komoditas perikanan.

​"Selain bisa dijadikan sebagai komoditas industri tersendiri, hasil dari spirulina sangat mendukung kegiatan industri perikanan. Spirulina bisa menjadi enrichment (pengayaan nutrisi) pada pakan untuk kegiatan pembenihan dan pembesaran," kata Siti.

Pemilihan spirulina dibandingkan jenis mikroalga lainnya didasarkan pada laju pertumbuhannya yang cepat, kemudahan dalam proses panen, serta kandungan nutrisinya yang sangat superior dan mudah dicerna.

​Siti mengungkapkan spirulina memiliki kandungan protein yang sangat padat hingga mencapai 65 persen, yang melampaui sumber protein konvensional lainnya dimana protein spirulina tercatat enam kali lebih tinggi dari telur dan tiga kali lebih tinggi dari daging sapi, serta melampaui ayam, susu, maupun keju.

Baca juga: BRIN manfaatkan spirulina untuk ciptakan pakan ternak produktif

Dalam rantai produksi akuakultur, lanjutnya pemanfaatan spirulina sangat efisien. Biomasa atau sisa pengolahan dari mikroalga ini dapat diserap seutuhnya sebagai bahan baku pakan ikan maupun ternak lainnya. Pemanfaatan ini turut menjawab tantangan global terkait krisis pangan dan tekanan ekosistem perairan.

​Terkait proses pengembangannya, Siti menjelaskan budidaya spirulina melewati tiga tahapan utama yakni kultur skala laboratorium, kultur intermediate, dan kultur skala massal. Pada tahap produksi massal, sistem yang digunakan kini makin berkembang, mulai dari kolam konvensional hingga penggunaan teknologi fotobioreaktor.

​"Fotobioreaktor itu lebih baik dibanding konvensional karena kita memanfaatkan lahan yang sedikit namun bisa memproduksi lebih maksimal, serta meminimalisir kontaminan, meskipun ini membutuhkan biaya dan penguasaan teknologi yang lebih," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kunci keberhasilan hidup mikroalga ini dipengaruhi oleh faktor suhu, salinitas, intensitas cahaya, dan pH air.

Baca juga: Peneliti IPB kembangkan "superfood" dari spirulina

​Selain berdampak positif secara ekologis karena mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), komoditas ini juga menjanjikan prospek ekonomi yang cerah.

Siti mengutip data Unleaded Market Research yang memproyeksikan nilai pasar global spirulina akan melonjak dari 393,6 juta dolar AS pada 2019 menjadi 897,61 juta dolar AS pada tahun 2027 mendatang.

​Meskipun rantai produksi global saat ini masih didominasi oleh China, iklim industri spirulina di Tanah Air perlahan mulai terbentuk.

​Siti mencatat keberadaan dua perusahaan perintis berskala besar di Semarang, Jawa Tengah, yang kapasitas produksinya diklaim telah menyentuh 108 ton per tahun.

​"Prospek usaha budidaya spirulina sangat layak untuk terus dikembangkan agar menjadi pendorong bagi terwujudnya industri perikanan yang maju dan modern di Indonesia," tutur Siti.

Baca juga: Dosen IPB temukan masker spirulina dan kolagen cegah jerawat

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.