Jakarta (ANTARA) - Kerja jarak jauh (remote work) berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental dalam jangka panjang, terutama pada pekerja yang tinggal sendiri, menurut hasil penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Science.
Melansir dari laman Psychology Today pada Selasa, penelitian tersebut menganalisis data lebih dari 500.000 orang dewasa di Amerika Serikat dengan membandingkan pekerja pada pekerjaan yang dapat dilakukan secara jarak jauh dan pekerjaan yang mengharuskan kehadiran secara langsung.
Hasil penelitian menunjukkan pekerja remote rata-rata menghabiskan waktu sekitar satu jam lebih lama sendirian setiap hari dibandingkan pekerja non-remote. Kondisi tersebut diikuti peningkatan tingkat tekanan psikologis, depresi, kecemasan, dan rasa kesepian.
Baca juga: Mulai Juni, ASN Pemprov Jatim WFH berlanjut setiap Jumat
Namun, studi itu juga menemukan bahwa dampak negatif kerja jarak jauh tidak dialami oleh seluruh pekerja.
Pekerja remote yang tinggal bersama keluarga tidak mengalami peningkatan tekanan psikologis maupun waktu menyendiri secara signifikan. Sebaliknya, pekerja yang tinggal sendiri tercatat lebih banyak menghabiskan waktu sendirian dan mengalami peningkatan tekanan psikologis.
Penelitian tersebut juga menunjukkan pekerja yang baru beralih ke sistem kerja remote belum mengalami peningkatan gangguan kesehatan mental. Temuan ini mengindikasikan bahwa dampak tersebut cenderung muncul setelah kerja jarak jauh dijalani dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Baca juga: Ekonom: WFH ASN jadi strategi konsolidasi belanja fiskal
Berkurangnya interaksi sosial diduga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap memburuknya kesehatan mental pada pekerja remote yang tinggal sendiri.
Meski demikian, kerja jarak jauh tidak selalu berdampak negatif. Mengutip laporan Neurobridge, pekerja neurodivergen, termasuk penyandang autisme dan attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), justru menganggap kebijakan kembali bekerja penuh di kantor sebagai salah satu sumber stres.
Sistem kerja fleksibel maupun hybrid dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai bagi sebagian pekerja neurodivergen karena interaksi sosial secara tatap muka tidak selalu memberikan pengalaman yang positif.
Baca juga: Pj Sekda Kalteng inspeksi dan evaluasi efektivitas WFO-WFH
Penelitian terhadap sekitar 1.600 pekerja di China yang menunjukkan sistem kerja fleksibel dan hybrid dapat meningkatkan kepuasan kerja, kinerja, serta kesehatan mental, terutama pada pekerja dengan waktu tempuh perjalanan yang panjang dan perempuan.
Ia menilai temuan-temuan tersebut menunjukkan dampak kerja jarak jauh tidak dapat digeneralisasi karena dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi tempat tinggal, karakteristik individu, hingga budaya dan sistem transportasi di masing-masing negara.
Baca juga: Airlanggasebut kebijakan WFH tekan konsumsi BBM hingga 9 persen
Baca juga: Pemkot Bandung pastikan WFH ASN berjalan disiplin dan optimal
Penerjemah: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.