Di Kelurahan Kober, koperasi akhirnya dimaknai bukan sekadar badan usaha, tapi menjadi ruang gotong royong yang mempertemukan kepercayaan, kerja sama, inovasi, dan harapan.
Purwokerto (ANTARA) - Di dalam salah satu ruangan sederhana di kompleks Kantor Kelurahan Kober, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, tampak tumpukan karung beras, tabung elpiji, dan telur yang siap didistribusikan.
Di balik kesederhanaan tempat itu, tersimpan sebuah ikhtiar yang jauh lebih besar daripada sekadar menjual sembako. Ruangan tersebut menjadi titik awal perjalanan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Kelurahan Kober, Kecamatan Purwokerto Barat, Banyumas..
Di sanalah para pengurus berupaya membuktikan bahwa koperasi tidak harus menunggu terbangunnya gedung megah atau modal besar untuk mulai bergerak. Bagi mereka, yang paling penting adalah membangun kepercayaan masyarakat lebih dulu, lalu menumbuhkan usaha secara bertahap.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Sebagai wilayah kelurahan di kawasan perkotaan, Kober memiliki karakter berbeda dibandingkan desa. Tidak ada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang dapat dijadikan embrio usaha, tidak tersedia lahan luas untuk membangun gerai, dan mayoritas warganya bukan petani.
Kondisi tersebut membuat pembentukan KDKMP benar-benar dimulai dari titik nol.
Ketua KDKMP Kelurahan Kober Abdul Jahir pun mengaku tidak pernah membayangkan akan memimpin koperasi tersebut.
Saat musyawarah kelurahan digelar pada pertengahan 2025, ia datang dengan niat menjadi pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK). Namun forum memiliki keputusan lain.
Namanya justru muncul sebagai ketua Koperasi Merah Putih yang ketika itu baru mulai diperkenalkan pemerintah. Alih-alih menolak, ia memilih mempelajari lebih dahulu arah program tersebut.
"Setelah dipercaya, saya mempelajari visi program strategis nasional ini. Saya melihat konsepnya bagus sehingga kami membentuk tim yang memiliki persepsi sama dan sebagian sudah memiliki usaha agar koperasi bisa langsung bergerak," katanya.
Proses memilih pengurus pun dilakukan dengan pertimbangan yang tidak biasa. Abdul Jahir tidak hanya mencari orang yang bersedia menjadi pengurus, tetapi mereka yang telah memiliki pengalaman usaha sehingga mampu langsung menjalankan aktivitas ekonomi koperasi.
Baginya, koperasi bukan sekadar organisasi sosial. Di dalamnya terdapat tanggung jawab mengelola uang anggota sekaligus membangun usaha yang harus tumbuh secara sehat.
Oleh karena itu, satu kesepakatan dibangun sejak hari pertama, yakni menjaga integritas dan transparansi dengan menjaga kepercayaan masyarakat. Hal itu dilakukan agar koperasi tidak sampai berhenti di tengah jalan karena tidak transparan.
Komitmen tersebut lahir dari pengalaman melihat banyak koperasi yang gagal berkembang karena lemahnya tata kelola. Abdul Jahir beserta pengurus tidak ingin KDKMP Kober mengulang cerita serupa.
Baginya, kepercayaan merupakan modal yang nilainya jauh lebih besar dibandingkan uang. Prinsip itu pula yang menjadi dasar ketika pengurus menyusun strategi bisnis.
Mereka memilih tidak tergesa-gesa menjalankan seluruh tujuh unit usaha yang menjadi arah pengembangan Koperasi Merah Putih. Pengurus justru memulai dari usaha yang paling sederhana, yakni perdagangan.
Beras, telur, dan LPG dipilih karena memiliki perputaran modal yang cepat serta dibutuhkan masyarakat setiap hari. Langkah tersebut ternyata membuka peluang yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Baca juga: Prabowo: KDMP jadi rantai pasok dari pusat hingga desa
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.