Jakarta (ANTARA) - Yayasan Sakuranesia terus memperkuat harmonisasi budaya hingga agama antara Indonesia-Jepang melalui gagasan "Menenun Harmonisasi" dalam rangkaian kegiatan ke Masjid Istiqlal hingga napak tilas di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Founder Yayasan Sakuranesia Tovic Rustam dalam keterangannya di Jakarta pada Selasa mengatakan, ide "Menenun Harmonisasi" lahir dari keyakinan terkait perbedaan budaya, agama, dan tradisi bukan sebagai penghalang, melainkan kekuatan untuk membangun masa depan bersama.
"Seperti sebuah tenunan, setiap benang memiliki warna dan karakter yang berbeda. Ketika dirajut dengan rasa saling menghormati, kepercayaan, dan tujuan kemanusiaan yang sama, perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan. Kami berharap semangat ini dapat terus mempererat persahabatan masyarakat Indonesia dan Jepang serta menjadi inspirasi bagi hubungan antarmanusia di berbagai belahan dunia," ujar Tovic.
Sementara itu, Chairman Yayasan Sakuranesia Sakura Ijuin mengatakan, budaya merupakan bahasa universal yang mampu mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.
"Perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan menjadi kekuatan untuk saling mengenal, memahami, dan membangun persaudaraan. Semangat inilah yang kami harapkan terus tumbuh melalui hubungan Indonesia dan Jepang," ujarnya.
Kunjungan pada 15–18 Juli 2026 tersebut merupakan tindak lanjut Peace Dialogue pada 20 April 2026 untuk mempererat persahabatan, persaudaraan, dan hubungan kemanusiaan Indonesia-Jepang melalui dialog lintas agama, kebudayaan, spiritualitas, serta penghormatan terhadap alam.
Kunjungan merawat harmonisasi budaya tersebut juga diikuti oleh rombongan dari Kuil Mii-dera, Jepang, yang dipimpin oleh Kepala Kuil Mii-dera ke-164 (Onjo-ji) Prefektur Shiga Jepang, Toshihiko Fuke.
Selama di Indonesia, rombongan juga mengunjungi Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta Selatan; Masjid Istiqlal; serta menghadiri tradisi Sedekah Bumi serta Jolenan di Desa Kemetul, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Toshihiko Fuke menyampaikan rasa syukur atas kesempatan berdialog dan saling mengenal lebih dekat dengan masyarakat Indonesia.
"Meski Buddha memiliki banyak aliran, ada satu hal yang sama, yaitu perdamaian. Saya mengharapkan perdamaian bagi diri sendiri, bagi kalian semua, dan bagi semua negara," kata Toshihiko.
Saat menyaksikan tradisi Jolenan di Desa Kemetul, kabupaten Semarang, Toshihiko Fuke mengaku terkesan dengan semangat masyarakat dalam menjaga tradisi.
"Kami senang sekali datang ke sini. Di Jepang, tradisi seperti ini juga ada, meskipun bentuknya sedikit berbeda,” katanya.
Selain untuk mempererat persahabatan, persaudaraan, dan hubungan kemanusiaan Indonesia-Jepang, kunjungan tersebut juga menekankan dialog lintas agama, kebudayaan, spiritualitas, serta penghormatan terhadap alam.
Di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah sekaligus Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) Said Aqil Siroj mengatakan, Islam yang diajarkan di lembaga pendidikan agama tersebut menjunjung tinggi toleransi dan kemanusiaan.
"Kita coba lihat orang Jepang. Walaupun teknologinya maju, tetapi mereka tetap kuat memegang budaya. Pakaian, lagu-lagu, tari-tarian tetap asli Jepang. Kita, orang Indonesia, jangan sampai kehilangan jati diri hanya karena ingin terlihat modern," ujar Said.
Rangkaian kunjungan ditutup dengan silaturahmi kepada GBPH Prabukusumo, adik Sri Sultan Hamengku Buwono X sekaligus putra almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX, sebelum rombongan melanjutkan kunjungan ke Candi Borobudur sebagai simbol warisan peradaban yang mempererat hubungan budaya kedua bangsa.
Yayasan Sakuranesia berharap kunjungan tersebut menjadi awal dari kolaborasi yang semakin luas antara masyarakat Indonesia dan Jepang di bidang pendidikan, kebudayaan, dialog lintas agama, lingkungan hidup, dan pengembangan masyarakat sebagai wujud persahabatan yang berkelanjutan.
Baca juga: KBRI Tokyo dukung literasi diaspora melalui peluncuran enam buku
Baca juga: RI-Jepang jajaki kerja sama pengembangan Museum KAA
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.