Hasil asesmen didapatkan fakta lapangan penyebab kebakaran yakni akibat pembersihan lahan, sehingga api tidak bisa dikontrol dan menyebabkan kebakaran lahan semakin meluas

Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan pemicu utama kebakaran lahan yang meluas hingga ke areal Perhutani di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, berasal dari aktivitas pembersihan lahan yang tidak terkontrol.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan di Jakarta, Selasa, mengatakan insiden kebakaran tersebut melanda wilayah Desa Gunung Gajah, Kecamatan Bayat, dengan total area terdampak mencapai sekitar 3,5 hektare.

"Hasil asesmen didapatkan fakta lapangan penyebab kebakaran yakni akibat pembersihan lahan, sehingga api tidak bisa dikontrol dan menyebabkan kebakaran lahan semakin meluas," katanya.

Abdul Muhari menjelaskan kobaran api mulai merambat dan meluas hingga membakar area di Petak 98 E Perhutani Cawas BKPH Wonogiri pada Senin (20/7) sekitar pukul 11.30 WIB.

Baca juga: BNPB: Kemarau picu karhutla dan kekurangan air bersih di Klaten

Merespons rambatan api tersebut, lanjutnya, tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama petugas terkait langsung diturunkan ke lokasi untuk melakukan lokalisasi titik api.

Berkat respons cepat dan penanganan terpadu oleh petugas gabungan di lapangan, kata dia, kobaran api tersebut berhasil dipadamkan sepenuhnya pada hari yang sama.

Pihaknya mengingatkan masyarakat untuk tidak menggunakan metode pembakaran secara sembarangan dalam aktivitas pembukaan maupun pembersihan lahan, terutama di area yang berdekatan dengan kawasan hutan reaktif.

"Masyarakat juga diimbau untuk segera melaporkan ke petugas apabila menemukan potensi kemunculan titik api agar penanganan dini dapat segera dilakukan sebelum api meluas," kata Abdul Muhari.

Baca juga: BNPB: Karhutla melanda Klaten, Sragen, dan Aceh Besar

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.