Ruang kelas harus menjadi tempat anak belajar bahwa keputusan penting tidak boleh diserahkan begitu saja kepada algoritma

Jakarta (ANTARA) - Hari Anak Nasional ke-42 pada 23 Juli 2026 mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”.

Tema ini semakin relevan ketika Akal Imitasi (AI) mulai hadir dalam proses tumbuh anak untuk membantu mengerjakan tugas, menerjemahkan bacaan, membuat gambar, menyusun presentasi, bahkan menjadi teman berbicara.

Jika AI ikut membentuk cara anak belajar dan memahami dunia, pendidikan etikanya tidak dapat menunggu hingga mereka dewasa. Etika AI harus dimulai dari ruang kelas sedini mungkin.

Indonesia memiliki lebih dari 80 juta anak. Evaluasi UNICEF yang diterbitkan pada 2026 menunjukkan bahwa 99,4 persen anak dalam studi dasarnya menggunakan internet, rata-rata 5,4 jam sehari. Namun, hanya 37,5 persen pernah menerima informasi tentang keselamatan daring.

Angka itu merupakan temuan sampel penelitian, bukan estimasi nasional. Meskipun demikian, kesenjangan antara intensitas pemakaian dan kesiapan menghadapi risiko digital terlihat sangat lebar.

Sekolah, karena itu, tidak cukup mengajarkan cara menggunakan AI. Anak perlu memahami mengapa mesin dapat menghasilkan jawaban yang salah, bias, atau diskriminatif. Juga menjelaskan data apa yang dikumpulkan, serta siapa yang bertanggung jawab ketika penggunaannya menimbulkan kerugian.

Urgensinya semakin besar setelah pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial mulai diterapkan sebagai mata pelajaran pilihan sejak tahun ajaran 2025/2026. Kebijakan ini merupakan langkah strategis. Namun, pendidikan AI tidak boleh direduksi menjadi kemampuan menulis kode dan membuat prompt.

Tanpa etika, kecakapan teknis justru dapat memperbesar kemampuan anak untuk menghasilkan deepfake, melakukan plagiarisme, menyebarkan informasi palsu, atau mengolah data orang lain tanpa persetujuan.

Literasi yang belum lengkap

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.