Jakarta (ANTARA) - Pengamat BUMN sekaligus Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan menilai pembagian tugas Waskita Karya dan Jasa Marga dalam pengelolaan jalan tol harus jelas, sehingga tidak terjadi tumpang tindih.
“Menurut saya, rencana tersebut harus memperhatikan existing bisnis BUMN di bidang operator tol seperti yang sudah dilakukan oleh Jasa Marga,” ujar Herry ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Rabu.
Pernyataan tersebut ia sampaikan terkait dengan salah satu arah restrukturisasi PT Waskita Karya (Persero) Tbk, yakni memperkuat fokus bisnis jalan tol.
Menurut Herry, penting bagi BP BUMN dan Danantara untuk memperhatikan Jasa Marga yang sudah menjadi operator di bidang tol, sehingga mencegah terjadinya tabrakan pengelolaan jalan tol dengan Waskita.
“Karena itu, pembagian perannya harus jelas, jangan sampai nanti ekspansinya saling bertabrakan,” kata Herry.
Mengenai restrukturisasi BUMN karya secara umum, Herry mengusulkan agar Danantara dan BP BUMN mempertimbangkan untuk menggunakan sistem regionalisasi, bukan sistem terpusat seperti saat ini yang semuanya berdomisili di Jakarta.
Untuk itu, lanjut dia, setelah dikonsolidasikan, BUMN karya perlu diredistribusi kehadirannya di berbagai wilayah Indonesia, seperti model bisnis yang dilakukan oleh Pelindo maupun Angkasa Pura.
“Tujuannya, untuk mendukung pemerataan pembangunan, sekaligus mampu memberdayakan sumber daya lokal, termasuk SDM. Jangan semuanya ada di Jakarta,” ujar Herry.
Baca juga: BP BUMN: Arah restrukturisasi Waskita perkuat fokus bisnis jalan tol
Baca juga: Waskita Karya garap Tol Yogyakarta-Bawen seksi 3 senilai Rp2,1 triliun
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria menyampaikan salah satu arah restrukturisasi PT Waskita Karya (Persero) Tbk adalah memperkuat fokus bisnis jalan tol.
Dony menjelaskan, dengan karakteristik bisnis yang memberikan pendapatan jangka panjang, pengelolaan jalan tol dinilai memiliki prospek yang kuat sebagai fondasi bisnis perusahaan.
Namun, sebelum memasuki tahap pengembangan, kondisi keuangan Waskita harus dipastikan sehat sehingga perusahaan memiliki kemampuan memenuhi kewajibannya secara mandiri, memperkuat kepercayaan para pemangku kepentingan, serta membuka peluang memperoleh pendanaan, termasuk melalui pasar modal.
Waskita diarahkan bukan hanya untuk memperpanjang waktu penyelesaian kewajiban atau menunda persoalan yang ada, kata dia, melainkan membangun fondasi bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Dony menyampaikan proses penyehatan perusahaan harus disusun berdasarkan perhitungan yang realistis, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga menghasilkan solusi permanen yang memperkuat kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya sekaligus menciptakan nilai jangka panjang.
Baca juga: Waskita Karya pastikan terus ekspansi proyek ke Arab Saudi
Baca juga: Jasa Marga perkuat transformasi pacu nilai tambah ekonomi dan sosial
Baca juga: Jasa Marga pacu pengelolaan "green toll" dan transformasi "rest area"
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.