Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi lulusan Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp.Endo(K), FAAP, FRCPI (Hon.), FIAP (Hon.) mengingatkan masyarakat agar tidak mengikuti tren konsumsi protein tinggi secara berlebihan, terutama pada anak-anak.
Dokter Aman dalam temu media yang diikuti secara daring di Jakarta, Rabu menyebut asupan protein yang melampaui kebutuhan tubuh dapat meningkatkan risiko gangguan fungsi ginjal, khususnya pada anak dengan kondisi tertentu.
Hal tersebut disampaikan untuk merespons adanya tren pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang menggunakan banyak protein dengan anggapan anak-anak bisa tumbuh tinggi layaknya pemain bola asal Norwegia, Erling Haaland.
Ia mengungkapkan pernah menangani pasien yang mengonsumsi protein hingga 400–500 gram per hari melalui makanan seperti steak maupun suplemen protein. Akibatnya, pasien mengalami gangguan pada fungsi ginjal.
Baca juga: 10 makanan yang perlu dibatasi bagi pengidap penyakit ginjal
"Pastikan terlebih dahulu apakah kondisi anak memang normal atau memiliki faktor risiko tertentu. Terapinya ada pada kita semua, salah satunya melalui edukasi mengenai pola makan yang benar," ujarnya.
Menurutnya, masyarakat Indonesia secara genetik memiliki pola konsumsi yang berbeda dengan masyarakat di kawasan Eropa maupun Afrika yang secara turun-temurun terbiasa mengonsumsi protein dalam jumlah lebih tinggi.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menilai pola makan nenek moyang Indonesia yang didominasi karbohidrat tetap relevan hingga saat ini.
Berdasarkan pengamatannya saat berkunjung ke sejumlah negara Asia seperti China, Jepang, Vietnam, dan Singapura menunjukkan bahwa masyarakat di negara-negara tersebut tetap mengonsumsi nasi, mi, maupun sumber karbohidrat lainnya sebagai makanan pokok, meski memiliki postur tubuh yang relatif tinggi.
"Di China mereka tetap makan mi, di Jepang makan ramen dan nasi, di Vietnam juga demikian. Di Singapura sarapan nasi lemak atau mi juga bukan masalah. Artinya, pola makan mereka tetap seimbang, bukan hanya mengandalkan protein," katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa anak yang lahir prematur, memiliki berat badan lahir rendah, atau mengalami gangguan pertumbuhan dalam kandungan (IUGR) berpotensi memiliki fungsi ginjal yang berbeda sehingga tidak dianjurkan menjalani pola makan tinggi protein atau tinggi kalori tanpa pengawasan tenaga medis.
Baca juga: Kebiasaan-kebiasaan yang bisa bantu turunkan risiko gangguan ginjal
Selain itu, tren penggunaan protein shake di kalangan anak yang ingin menjadi atlet juga perlu diwaspadai. Menurutnya, kebutuhan protein setiap anak berbeda sehingga harus dihitung secara cermat oleh dokter gizi anak atau dietisien.
"Kebutuhan protein harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Tetap harus ada keseimbangan antara protein, karbohidrat, dan lemak," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa lemak juga memiliki peran penting bagi tubuh, terutama untuk perkembangan otak, proses pubertas, dan pembentukan hormon. Karena itu, pola makan yang sehat bukan berarti hanya memperbanyak konsumsi protein, melainkan memastikan seluruh zat gizi terpenuhi dalam jumlah yang sesuai kebutuhan.
Di akhir paparannya, ia menekankan pentingnya edukasi gizi kepada masyarakat agar tidak mudah mengikuti tren diet yang belum tentu sesuai dengan karakteristik genetik dan kebutuhan tubuh masyarakat Indonesia.
"Ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Genetik kita tidak berubah dalam ratusan tahun, sehingga pola makan juga harus disesuaikan dengan kebutuhan tubuh kita, bukan sekadar mengikuti tren," ujar dia.
Baca juga: Bukan hanya atlet, protein penting untuk energi harian
Baca juga: Anak dengan alergi susu boleh mengonsumsi protein dari daging sapi
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.