Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, mengungkapkan sedikitnya ada empat faktor yang dapat menyebabkan orang bertubuh kurus mengalami kolesterol tinggi, mulai dari faktor genetik hingga penumpukan lemak di rongga perut.

"Jadi memang banyak faktor yang menyebabkan orang kurus mengalami kolesterol tinggi. Tidak hanya karena pola makan, tetapi juga dipengaruhi faktor keturunan maupun distribusi lemak di tubuh," kata Susetyo dalam sesi edukasi media yang digelar di Jakarta, Kamis.

Penyebab pertama, kata dia, adalah faktor genetik atau familial hypercholesterolemia (FH), yakni kelainan bawaan yang membuat kadar kolesterol low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat tetap tinggi meski seseorang memiliki berat badan normal.

Baca juga: Tiga faktor yang diam-diam bisa mempengaruhi kadar kolesterol

Baca juga: Pilihan suplemen yang bisa bantu turunkan kadar kolesterol "jahat"

"Ini penyakit genetik. Jadi meskipun badannya kurus, kadar kolesterol LDL bisa tetap tinggi," ujarnya.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP dalam sesi edukasi media yang digelar Daewoong bersama PERKI di Jakarta, Kamis (23/7/2026). (ANTARA/Farika Nur Khotimah)

Faktor kedua adalah pola makan yang kurang sehat, terutama kebiasaan mengonsumsi makanan yang digoreng atau mengandung lemak jenuh dan lemak trans dalam jumlah berlebih.

Menurut Susetyo, pola makan tersebut dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL sehingga memperbesar risiko terbentuknya plak di pembuluh darah.

Selain itu, kurangnya aktivitas fisik juga menjadi penyebab kolesterol tinggi pada orang bertubuh kurus. Aktivitas fisik yang rendah dapat mengganggu metabolisme lemak sehingga kadar kolesterol jahat meningkat.

Baca juga: Beberapa kebiasaan yang mampu menekan kadar kolesterol tinggi

Penyebab lainnya adalah obesitas sentral atau penumpukan lemak viseral di rongga perut. Menurut dia, kondisi tersebut dapat terjadi pada orang dengan indeks massa tubuh normal sehingga tidak selalu terlihat dari bentuk tubuh.

"Jadi jangan hanya melihat angka di timbangan. Bisa saja berat badannya normal, tetapi lemak di rongga perutnya banyak," katanya.

Ia menjelaskan obesitas sentral pada populasi Asia ditandai dengan lingkar pinggang lebih dari 90 sentimeter pada pria dan lebih dari 80 sentimeter pada perempuan.

Karena itu, Susetyo mengimbau masyarakat tidak hanya memperhatikan berat badan, tetapi juga menjaga pola makan, rutin berolahraga, serta melakukan pemeriksaan kadar kolesterol secara berkala, terutama bila memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga.

Baca juga: Manfaat teh hijau bagi kolesterol dan kesehatan jantung

Baca juga: Empat makanan yang bantu turunkan kolesterol secara alami

Baca juga: Dokter ingatkan bahaya “lapar mata” saat Idul Adha

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.