Jakarta (ANTARA) - Dewan Energi Nasional (DEN) menyampaikan penggunaan tetes tebu untuk bahan baku pengembangan bahan bakar nabati (BBN) bioetanol agar tidak mengganggu kebutuhan pangan.

“Tetes tebu saat ini produksinya berlebih, bahkan sebagian diekspor,” ujar Anggota DEN Unggul Priyanto kepada ANTARA yang dihubungi dari Jakarta, Kamis.

Unggul menyampaikan, rekomendasi penggunaan tetes tebu merupakan salah satu upaya pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pasokan bahan baku bioetanol tanpa mengganggu kebutuhan pangan.

Tetes tebu, kata dia, tidak terkait langsung dengan pemenuhan kebutuhan pangan. Tetes tebu merupakan salah satu limbah yang dihasilkan oleh pabrik gula. Selain tetes tebu, ia pun menyampaikan terdapat berbagai macam variasi bahan baku yang tidak terkait dengan pangan secara langsung, seperti sorgum dan nira aren.

Baca juga: Kemendag: Produk tetes tebu Mojokerto tembus pasar Australia

“Bahkan untuk (pengembangan bioetanol) jangka panjang juga dengan memanfaatkan limbah pertanian seperti jerami, sekam, tandan kosong sawit,” ucap Unggul.

Akan tetapi, untuk memanfaatkan limbah pertanian, Unggul menyampaikan pemerintah perlu melakukan riset lebih lanjut.

“Ini masih jangka panjang, perlu riset lebih lanjut,” ujar dia.

Presiden Prabowo Subianto berencana untuk menambah jumlah pabrik etanol di Indonesia, membangun setidaknya 30 sampai dengan 50 pabrik sebagai upaya untuk mengembangkan bahan bakar minyak (BBM) dengan campuran etanol.

Baca juga: SGN dukung ketahanan energi melalui tetes tebu sebagai bahan EBT

Presiden Prabowo pada Jumat (17/7) menyampaikan bahwa Indonesia saat ini sudah dapat melakukan pencampuran bensin dengan etanol hingga tingkat 20 persen atau E20.

Kepala Negara memberikan contoh bagaimana India sudah dapat mencapai E20 dan Brasil sudah mencapai E100.

Melihat dari kedua negara tersebut, dia menyampaikan optimisme Indonesia dapat mencapai target untuk mencapai tingkatan E20.

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.