Jakarta (ANTARA) - Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengatakan kemitraan ekonomi ASEAN-China harus memperkuat ketahanan dan stabilitas kawasan di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
“Besarnya skala hubungan ASEAN-China harus diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat, ketangguhan rantai pasok, dan kemampuan menghadapi berbagai guncangan,” kata Sugiono di Manila, Rabu (22/7).
Menurut Kementerian Luar Negeri RI, nilai perdagangan ASEAN-China mencapai US$772,4 miliar pada 2024, sekitar seperlima dari total perdagangan ASEAN.
“Ini bukan sekadar angka. Di baliknya ada lapangan kerja, pasar, rantai pasok, dan kesejahteraan masyarakat,” kata Sugiono.
Indonesia mendorong optimalisasi RCEP dan ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) 3.0 untuk memperkuat integrasi ekonomi yang lebih praktis, inklusif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
“Kekuatan ekonomi kawasan tidak hanya diukur dari nilai perdagangan, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya menjangkau masyarakat dan pelaku usaha di luar pusat pertumbuhan,” katanya.
Selain memperkuat perdagangan, Indonesia mendorong kemitraan ASEAN-China yang lebih mampu melindungi kawasan dari dampak ketidakpastian global, kata Sugiono.
Ia menegaskan sentralitas ASEAN dan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) harus tetap menjadi landasan stabilitas kawasan.
Keduanya juga harus mendukung kerja sama yang inklusif, transparan, dan berbasis aturan di tengah meningkatnya rivalitas, katanya.
Pendekatan itu juga harus tercermin dalam kerja sama maritim karena perairan kawasan menjadi jalur utama perdagangan, konektivitas, serta ketahanan energi dan pangan.
Indonesia kembali mendorong penyelesaian Code of Conduct (COC) Laut China Selatan yang efektif, substantif, dan berlandaskan hukum internasional, khususnya UNCLOS 1982.
Sugiono menilai COC yang kuat akan menunjukkan kemampuan negara-negara kawasan menjaga stabilitas dan menentukan masa depan mereka sendiri.
“Kemitraan ASEAN-China harus menjadi bukan hanya penggerak pertumbuhan, tetapi juga penopang perdamaian kawasan,” katanya.
Tahun ini menandai 35 tahun hubungan kemitraan wicara ASEAN-China dan lima tahun kemitraan strategis komprehensif kedua pihak.
Pertemuan tersebut menghasilkan pernyataan bersama mengenai dampak perkembangan Timur Tengah dan penguatan kerja sama energi kawasan, termasuk respons bersama serta ketahanan energi.
Baca juga: ASEAN-China upayakan Kode Etik Laut China Selatan rampung tahun ini
Baca juga: Menlu Sugiono: ASEAN-China perkuat kemitraan ekonomi
Pewarta: Asri Mayang Sari
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.